Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kisah dr Kanujoso Djatiwibowo: Pahlawan di Balik Nama RSUD Terbesar Balikpapan

Khoirun Nisa • Rabu, 24 September 2025 | 18:40 WIB

Foto Istimewa
Foto Istimewa
\KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Kota Balikpapan memiliki cukup banyak fasilitas kesehatan. Mulai dari puskesmas, klinik, hingga rumah sakit. Masing-masing punya peran penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Salah satu yang terbesar dan dengan kualitas yang oke, Kota Balikpapan punya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanujoso Djatiwibowo yang letaknya di Jalan MT Haryono. 

Di baliknya, tersimpan kisah heroisme, pengabdian, dan pengorbanan seorang dokter yang menjadi pionir layanan kesehatan di kota ini pada masa-masa paling sulit.

Yuk mengenal siapa sebenarnya Dokter Kanujoso Djatiwibowo, serta perjalanan rumah sakit yang mengusung namanya menjadi salah satu fasilitas kesehatan terbesar di Balikpapan. 

Profil Sang Dokter Pejuang

Lahir pada 9 Maret 1909, Kanujoso Djatiwibowo adalah putra Djojowibowo seorang Asisten Wedana yang sejak muda dikenal cerdas dan disiplin. Setelah lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) (kini SMA 3 Yogyakarta), semangatnya tak berhenti. 

Anak kedua dari 10 bersaudara itu lalu melanjutkan studi ke sekolah kedokteran Genneskundige Hoge School (GHS) di Jakarta, bahkan dengan dukungan beasiswa dari pemerintah Belanda.

Namun, jiwa nasionalisnya tetap membara—ia tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi pergerakan Indonesia Muda (IM).

Setelah meraih gelar dokter dan memulai pendidikan spesialis THT, sebuah panggilan tugas membawanya ke Balikpapan. Di kota yang saat itu masih asing baginya, ia langsung menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Land Sharff milik kolonial Belanda. 

Hebatnya, ia adalah satu-satunya dokter di sana, yang berarti ia menangani segalanya—mulai dari bedah, kebidanan, hingga urusan administrasi. Pada 1938, di usia 29 tahun, ia kembali ke Jawa untuk menikahi R.A. Pratiwi, seorang aktivis Palang Merah, yang setia mendampingi perjuangannya di Balikpapan.

Dedikasi di Tengah Badai Perang

Di Balikpapan, dr. Kanujoso dikenal sebagai dokter berdedikasi tinggi yang tak pernah membedakan pasien, bahkan rutin mengunjungi daerah pedalaman. 

Saat situasi memanas menjelang invasi Jepang pada 1942, ia membuat keputusan yang menunjukkan betapa besar jiwa pengabdiannya: ia memulangkan istri dan anak-anaknya ke Jawa demi keselamatan mereka, namun ia sendiri menolak pergi. Baginya, meninggalkan pasien adalah hal yang mustahil.

Ia tetap bertugas di bawah pemerintahan Jepang, bahkan saat dipindahkan ke Rumah Sakit Sin Min Biyoying di KM 1. Sayangnya, pengabdian itu harus berakhir tragis. 

Tepat menjelang kekalahan Jepang, pada 20 Juni 1945, dr. Kanujoso Djatiwibowo gugur di usia 36 tahun setelah dieksekusi secara keji. Kabar duka ini baru sampai ke telinga keluarganya setahun kemudian melalui Palang Merah Internasional.

Lahirnya Rumah Sakit Modern

Jauh setelah era perjuangan dr. Kanujoso, cikal bakal RSUD modern yang kita kenal sekarang dimulai. Akibat kerusakan parah di rumah sakit lama di Gunung Sari pada 1983, pemerintah merencanakan pembangunan di lokasi baru. Proyek besar di Jalan MT Haryono ini dimulai pada 31 Maret 1994 dengan total biaya mencapai Rp30,96 miliar.

Puncaknya, gedung baru ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 Agustus 1997. Saat itulah, untuk mengenang jasa dan pengorbanannya yang luar biasa, rumah sakit ini diberi nama RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. 

Atas dedikasinya, Pemerintah RI juga menganugerahkan penghargaan Satyalancana kepadanya. Jenazahnya kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kembang Kuning, Surabaya.

Awal keberadaannya, RS baru itu berdiri dengan kapasitas awal 300 tempat tidur. Lalu berhasil mendapatkan akreditasi dari Kemenkes RI pada tahun 1998, menegaskan standarnya sebagai RS Kelas B.

Pengembangan Fasilitas Modern: Gedung Anggrek Hitam dan Helipad

Menjawab kebutuhan zaman, RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo terus dilakukan ekspansi besar pada 2011 dengan membangun gedung baru delapan lantai yang dinamakan “Anggrek Hitam”. 

Gedung modern ini diresmikan pada 22 Maret 2013 oleh Menteri Kesehatan saat itu, dr. Andi Nafsiah Walinono Mboi, dan dilengkapi fasilitas canggih, termasuk helipad untuk penanganan kasus darurat.

Warisan Nama dan Semangat Pelayanan

Pemberian nama RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo bukan hanya penghargaan formal, tetapi juga simbol semangat pengabdian beliau yang diwariskan kepada generasi penerus. 

Baca Juga: Drama Impor Kaltim Lima Tahun Terakhir: Migas Turun Ratusan Juta Dolar, Nonmigas Malah Naik

Nama dr. Kanujoso Djatiwibowo menjadi inspirasi bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati untuk melayani dengan sepenuh jiwa meski dalam kondisi bergejolak.

Editor : Uways Alqadrie
#pemkot balikpapan #kota balikpapan #RSUD Kanujoso Djatiwibowo #kesehatan Balikpapan