KALTIMPOST.ID, Setiap harinya, Kota Balikpapan menghasilkan ratusan ton sampah yang sebagian besar berakhir di TPA Manggar.
Dengan volume sampah yang terus meningkat seiring laju pertumbuhan penduduk, mengandalkan TPA saja bukanlah solusi jangka panjang.
Krisis sampah adalah masalah nyata di depan mata yang jika tak segera diatasi, masalah lingkungan tak lagi bisa dihindari. Selain kebijakan pemerintah, juga membutuhkan aksi dari semua lapisan masyarakat.
Namun, di tengah tantangan ini, pengelolaan sampah berbasis warga di tingkat RT bisa jadi solusi terdekat.
Sebuah contoh nyata yang telah berhasil membuktikannya selama lebih dari satu dekade adalah warga RT 21 di Kelurahan Manggar Baru, Kecamatan Balikpapan Timur.
Penasaran? Yuk simak sampai habis!
Potret Keberhasilan di Pesisir: Sistem Terintegrasi RT 21 Manggar Baru
Dipimpin oleh Farida Kartika, Ketua RT, warga telah mengembangkan ekosistem pengelolaan sampah yang mengagumkan. Semuanya bermula pada 2010 dengan pembentukan Bank Sampah Barokah 21. Warga mulai membiasakan diri memilah dan menabung sampah bernilai jual seperti kardus, kertas, dan kaleng.
Meski sempat menghadapi pasang surut hingga mati surinya bank sampah di banyak RT, mereka tidak ikut berhenti. Mereka terus melakukan inovasi agar bisa menekan jumlah sampah yang akan masuk TPA.
Masalah sampah non-ekonomis misalnya bungkus plastik sachet yang sulit dijual justru memunculkan solusi kreatif. Bersama para ibu-ibu PKK yang dikoordinasi oleh Nurhana, Ketua Posyandu, mereka mengolah limbah plastik menjadi kerajinan tangan seperti tas dan dompet. Produk cantik itu bahkan layak pakai dan bernilai ekonomi.
Inovasi terus berlanjut. Pada tahun 2025 ini, mereka memproduksi ecobrick (botol plastik padat berisi sampah plastik) untuk membangun gapura RT, sebuah infrastruktur yang lahir dari limbah. Berhasil menghemat ratusan kg sampah yang biasanya terbuang sia-sia.
Selain itu, sampah organik pun tak luput dari perhatian. Dua titik kompos komunal berkapasitas 80 kg kini menyediakan pupuk gratis untuk warga, ditambah dengan produksi Eco Enzyme untuk kebutuhan rumah tangga. Lengkap!
Mereka pun terus berinovasi untuk mengolah sampah dan menjadikannya barang bermanfaat dan tentunya menambah produktivitas ibu-ibu di sana.
Ketua RT 21 Manggar Baru Farida Kartika cerita kalau awal mula inisiatif pengolahan sampah tersebut bermula dari melihat sampah di TPS yang menumpuk, bau, dan tak terurus. Berakhir begitu saja di TPA.
“Ya kami cuma ingin punya lingkungan yang bersih dan nyaman. Dan bisa memberdayakan ibu-ibu di sini juga,” katanya kepada Kaltim Post belum lama ini.
Sistem ini berjalan karena adanya rutinitas yang disiplin, mulai dari penyetoran sampah terjadwal, pengerjaan kerajinan saat pertemuan PKK, hingga lomba antarwarga untuk mendorong partisipasi.
Ketua Posyandu, Nurhana mencatat, hasilnya, RT 21 mampu mengelola hingga 500 kg sampah dalam sebulan dan memberikan pemasukan tambahan yang signifikan bagi nasabah bank sampah.
“Hasil dari Bank Sampah tidak menentu tiap bulan. Tapi ada yang bisa mencapai ratusan ribu dalam sebulan, dengan berat sampah terpilah hingga 500 kg. Sampah ditimbang dalam kondisi kotor dan bersih.”
“Terasa sekali sampah berkurang ya. Dan bisa menghasilkan tambahan pemasukan bagi warga dari sampah tersebut,” tambahnya.
Membongkar Rahasia Sukses: 5 Kunci Keberhasilan Sistem RT 21
Apa yang membuat sistem di RT 21 bisa bertahan dan berkembang? Jawabannya terletak pada beberapa kunci strategis yang bisa menjadi pelajaran bagi lingkungan lain.
- Konsistensi Berbasis Kebutuhan Nyata: Program ini awet bukan karena euforia sesaat, melainkan karena menjawab kebutuhan ekonomi warga melalui tabungan Bank Sampah yang bisa dicairkan saat momen penting seperti Lebaran.
- Integrasi dengan Kegiatan Sosial: Alih-alih menciptakan jadwal baru yang memberatkan, kegiatan daur ulang seperti menganyam justru dileburkan ke dalam pertemuan rutin warga seperti PKK dan Dasa Wisma, menjadikannya ajang produktif yang memperkuat ikatan sosial.
- Inovasi Lahir dari Keterbatasan: Solusi paling kreatif muncul saat mereka mengatasi sampah ‘tak laku’ seperti sachet dan kebutuhan membangun gapura dengan biaya murah. Keterbatasan justru memicu inovasi.
- Sistem yang Holistik: Mereka menyediakan solusi untuk hampir semua jenis sampah, dari organik, anorganik, hingga residu dan B3. Ini membuat warga lebih mudah berpartisipasi karena semua sampahnya ada jalur pengelolaannya.
- Partisipasi yang Menyenangkan: Pendekatan “gamifikasi” seperti lomba ecobrick saat 17-an terbukti sangat efektif untuk meningkatkan partisipasi dan menumbuhkan kesadaran warga dengan cara yang seru.
Tantangannya
Walau sistem internal mereka sudah solid, tantangan terbesar adalah akses pasar. Produk kerajinan mereka masih dijual terbatas via Instagram dan dari mulut ke mulut.
Mereka berharap ada dukungan konkret berupa akses ke pasar digital, keterlibatan dalam event pemerintah, dan promosi melalui kanal resmi.
Saatnya Warga Balikpapan Lain Mencontoh
RT 21 telah membuktikan bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan dari bawah dengan hasil nyata. Ini bukan sekadar urusan bersih-bersih, tapi sudah masuk ke penguatan ekonomi keluarga, pembangunan infrastruktur mandiri, dan perubahan perilaku warga.
Model yang mereka jalankan yakni edukasi berkelanjutan, insentif ekonomi, rutinitas terjadwal, dan inovasi berbasis kebutuhan, adalah cetak biru yang bisa direplikasi.
Jika setiap RT di Balikpapan punya sistem seperti ini; masalah sampah kota bukan hanya bisa diatasi, tapi bisa menjadi kekuatan ekonomi lokal yang mandiri dan inovatif.
Editor : Hernawati