BALIKPAPAN - Kementerian Ketenagakerjaan berupaya mendorong sumber daya manusia (SDM) yang siap mengisi green jobs. Transisi ini mengubah landscape dunia kerja, mendorong lahir sektor green economy, dan implikasi lain.
Berdasarkan laporan World Economic Forum 2025, green transition mampu menciptakan 170 juta pekerjaan baru secara global pada 2030. Kemudian 92 juta pekerjaan akan hilang atau tergantikan pada 2030.
“Bahkan 59 persen orang perlu untuk reskilling dan upskilling,” kata Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Universitas Balikpapan, Kamis (30/10). Menghadapi ini, green jobs juga menjadi target dalam RPJMN 2025-2029.
Sebuah pekerjaan yang berkontribusi untuk melestarikan atau memulihkan lingkungan. Serta mempromosikan pekerjaan yang layak. Ini sudah menjadi kewajiban untuk mempersiapkan hal tersebut.
“Artinya transisi menuju energi hijau ini sudah menjadi sesuatu yang pasti,” bebernya. Terlebih green jobs tentu memiliki tugas dan keterampilan khusus. Tidak seperti kondisi saat ini.
Maka menaker mendorong kampus harus ikut membantu transisi menuju green jobs. Caranya dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang menunjang green jobs tersebut.
“Sudah diprediksi ini peluang penciptaan tenaga kerja baru. Walau masih menjadi tantangan dari sisi kesiapan tenaga kerja,” bebernya. Proyeksi Bappenas, green jobs akan menciptakan 15,3 juta pekerjaan baru hingga 2045.
“Kami berharap perguruan tinggi menyiapkan SDM yang menguasai kompetensi green jobs,” sebutnya. Lalu dibantu dengan balai-balai dari Kemenaker untuk penguatan vokasi bersifat kompetensi teknis.
Meski terkenal sebagai daerah penghasil minyak, gas, dan batubara. Guru besar Institut Teknologi Bandung ini berpendapat, tidak menutup kemungkinan Kaltim juga mampu memiliki SDM yang handal dalam green jobs.
“Kita akan siapkan transisinya. Bisa juga menjadi industri pendukung,” tuturnya. Dia memberi contoh keberadaan green building sampai pengelolaan sampah yang akan dibutuhkan dalam industri manapun.
Itu sesuatu yang selalu ada di setiap wilayah dan pasti akan terus dicari. Sebagai penutup, Yassierli berpesan agar mahasiswa Uniba menyiapkan tiga hal penting untuk menatap masa depan.
Pertama growth mindset, keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang. Kedua critical mindset, kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Terakhir entrepreneurial mindset.
Semangat inovasi dan keberanian mengambil peluang. “Orang sukses bukan yang paling pintar, tapi yang paling adaptif terhadap perubahan,” tandasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan