BALIKPAPAN - Dinas Perhubungan (Dishub) Balikpapan berencana membangun depo kontainer di Kilometer 13 guna mengurai parkir liar di bahu jalan. Namun ALFI mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa mayoritas truk tersebut bukan parkir sembarangan.
Ketua DPC Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) Balikpapan Firman mengatakan, kendaraan kontainer yang memenuhi bahu jalan ini mayoritas karena mengantre bahan bakar minyak (BBM) di SPBU.
Tak sedikit supir meninggalkan kontainer atau gandengannya di kawasan dekat pintu masuk Tol Balikpapan-Samarinda. Sementara mereka menunggu waktu bisa mengisi solar di SPBU.
“80 persen kontainer yang parkir bahu jalan karena antre solar,” ucapnya. Menurutnya kontainer lokal yang menyumbang parkir di bahu jalan hanya 10 persen.
“Rata-rata perusahaan logistik di sini punya pool dan workshop,” katanya. Sedangkan 10 persennya lagi antrean disumbanagkan kendaraan asal Jawa atau luar daerah.
Dia berpendapat, penyebab utama karena SPBU tidak menyediakan parkir. Semua antrean harus memakan bahu jalan.
“Daripada membangun depo kontainer lebih baik tambah SPBU dan kuota solar,” sebutnya. Seharusnya minimal ada dua SPBU di Kilometer 13 untuk membantu antrean terurai.
Tidak seperti sekarang hanya tersedia satu SPBU. Itu membuat antrean BBM hingga sepanjang 3 kilometer. “Kasian kadang orang sudah antre begitu giliran datang tapi solar habis,” imbuhnya.
Firman mendorong Pemkot Balikpapan mengajukan usulan kuota solar dengan data terbaru. Setidaknya memperbarui data yang disampaikan kepada Pertamina Patra Niaga.
Seperti jumlah kendaraan dan data penduduk terkini. “Kendaraan yang mengantar ke Samarinda sampai Bontang juga mengisi BBM di Balikpapan dulu,” ucapnya.
Seharusnya Balikpapan bisa mendapat prioritas atau keistimewaan. Sebab produksi BBM salah satunya dilakukan di refinery unit Balikpapan. Dia berharap pemerintah kota bisa berjuang. (*)
Editor : Sukri Sikki