BALIKPAPAN - Puluhan konsumen Balikpapan Regency menuntut kepastian dari pengembang terkait mangkraknya pembangunan unit hunian yang telah mereka bayar.
Mereka kembali mendatangi kantor pemasaran pada Jumat (17/4). Ini merupakan hari kedua konsumen menagih kepastian pembangunan unit rumah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kaltim Post, pertemuan hari kedua ini melibatkan sekitar 11 konsumen. Baik yang membeli unit secara tunai maupun kredit perumahan rakyat (KPR).
Baca Juga: Pengerukan Waduk Manggar Disebut Harus Lewat Persetujuan Ahli Bendungan, Ini Alasannya
Mereka konsumen dari beberapa cluster yang hingga kini belum mendapatkan hak. Rata-rata telah membeli unit sejak 2023. Bahkan hingga pembayaran lunas belum dapat menempati rumah idaman.
Pertemuan berlangsung sekitar dua jam di kantor pemasaran. Namun sayang belum ada kepastian kapan ada serah terima.
Sebelumnya tuntutan konsumen sudah berlangsung sejak Kamis (16/4). Puluhan orang datang dan meluapkan kekecewaan kepada pengembang yang dianggap gagal mengikuti perjanjian.
Salah satu konsumen Igan Jaya, mengungkapkan kekecewaannya setelah membayar tunai alias cash keras senilai Rp 400 juta, namun rumah yang dijanjikan hanya berakhir pada tahap fondasi.
"Saya bayar cash keras, tapi sekarang belum terlihat ada pengerjaan pembangunan, baru sampai fondasi. Masa uang sudah masuk Rp400 juta tapi belum dibangun, kan penipuan ini namanya," ujarnya.
Baca Juga: Atasi Krisis Air, Pemkot Balikpapan Kantongi Izin Pengerukan Waduk Manggar
Keresahan tidak hanya dirasakan oleh pembeli tunai. Berdasarkan data konsumen tergabung dalam grup, total sekitar 55 orang yang mengalami kendala serupa, termasuk mereka yang mengambil skema KPR.
Persoalan mencakup proses KPR yang tidak berjalan hingga dokumen Akta Jual Beli (AJB) yang hingga kini belum tuntas. Igan menilai, serangkaian pertemuan yang dilakukan dengan pihak manajemen selama setahun terakhir tidak membuahkan hasil.
Sementara konsumen mengaku rutin mendatangi kantor pemasaran untuk mengawal perkembangan proyek, namun tetap mendapatkan ketidakpastian.
Dalam desakannya, para konsumen memberikan dua opsi tegas kepada pihak developer. Pertama kejelasan pembangunan jika proyek berlanjut, pengerjaan harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi dan perjanjian awal.
Opsi kedua pengembalian dana atau refund. Apabila pengembang tidak mampu merealisasikan pembangunan, konsumen menuntut pengembalian uang secara penuh tanpa potongan.
"Kami masih diskusi dengan pihak manajemen. Kalaupun nanti developer tetap tidak bisa action dan merealisasikan, kami minta uang kembali tanpa ada potongan," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, konsumen masih menunggu sikap resmi dan solusi konkret dari manajemen perumahan terkait tuntutan pengembalian dana tersebut.
Upaya konfirmasi awak media juga belum membuahkan hasil. Perwakilan developer yang hadir dalam pertemuan belum mengeluarkan pernyataan resmi atau bersedia memberi komentar terkait tuntutan konsumen.
Editor : Muhammad Ridhuan