KALTIMPOST.ID-Pemkot Balikpapan terus mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha. Salah satunya dengan menggelar pelatihan manik-manik tingkat lanjut yang berlangsung selama tiga hari, mulai Senin (27/4), di Hotel Zurich Balikpapan.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUKMP) Balikpapan itu tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk mencetak wirausaha baru yang produktif dan profesional di sektor kriya.
Kepala DKUKMP Balikpapan Heruressandy Setia Kesuma menjelaskan, pelatihan tahun ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya. Namun, materi yang diberikan lebih mendalam dan teknis, menyesuaikan kebutuhan pengembangan usaha para peserta.
“Pelatihan ini sudah masuk tahap lanjutan. Materinya lebih detail, sehingga peserta diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saingnya,” ujarnya.
Ia menyebut, mayoritas peserta merupakan ibu rumah tangga yang tergabung dalam berbagai komunitas UMKM. Melalui pelatihan ini, mereka didorong untuk mengembangkan kreativitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk yang dihasilkan.
Sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Forum UMKM Kecamatan, Forum UMKM Balikpapan, serta Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Balikpapan. Keterlibatan lintas komunitas ini menjadi bagian dari upaya inklusivitas dalam pengembangan ekonomi lokal.
Heruressandy menambahkan, pengembangan kerajinan manik-manik tidak sekadar diarahkan sebagai produk aksesoris, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya daerah yang memiliki nilai jual tinggi. Karena itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya inovasi desain dan diferensiasi produk.
Untuk mendukung hal itu, DKUKMP menghadirkan dua narasumber dari Manika Kaltim, yakni Fadlian Arip dan Meitasari Kusuma. Keduanya memberikan materi terkait teknik produksi, pengembangan desain, hingga strategi menciptakan produk kriya yang relevan dengan tren pasar.
“Peserta tidak hanya diajarkan teknik, tetapi juga bagaimana membaca pasar agar produknya diminati, termasuk oleh wisatawan maupun konsumen dari luar daerah,” jelasnya.
Ketua Dekranasda Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud turut mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, penguatan sektor kriya menjadi salah satu strategi penting dalam mendorong ekonomi kreatif daerah.
Ia menilai, kerajinan manik-manik memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan sekaligus suvenir khas Balikpapan. Namun, hal itu harus diiringi dengan inovasi yang berkelanjutan.
“Produk harus terus berkembang, baik dari sisi desain maupun warna. Pelaku usaha harus mampu mengikuti tren agar tetap relevan, terutama untuk menjangkau pasar generasi muda,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap lahir pelaku usaha baru yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki orientasi bisnis yang kuat. Dengan demikian, sektor UMKM di Balikpapan dapat tumbuh lebih adaptif dan berdaya saing di tengah dinamika pasar yang terus berubah. (pus/pms/rd)
Editor : Romdani.