Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Waspada Hantavirus Andes: Kenali Gejala, Tingkat Kematian, dan Bedanya dengan Jenis Seoul

Dina Angelina • Kamis, 14 Mei 2026 | 16:44 WIB
PENGAWASAN: Ketua Tim Kerja Surveilans dan Penindakan Pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan BKK Balikpapan dr Siti Hatijah. DINA ANGELINA/KP
PENGAWASAN: Ketua Tim Kerja Surveilans dan Penindakan Pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan BKK Balikpapan dr Siti Hatijah. DINA ANGELINA/KP

KALTIMPOST.ID, ​BALIKPAPAN – Dunia internasional tengah menaruh perhatian pada Hantavirus jenis Andes setelah dilaporkan menyebabkan kematian dua warga negara Belanda.

Berbeda dengan jenis Seoul yang sebelumnya pernah terdeteksi di Indonesia, Hantavirus Andes memiliki fatality rate atau tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dan dapat menular antarmanusia melalui droplet.

Itu menyebabkan kematian pasangan suami istri, penumpang kapal pesiar MV Hondius. Kejadian yang dilaporkan oleh otoritas Inggris. Hantavirus Andes memiliki fatality rate 60 persen. 

“Ini menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan. Strain andes ini dapat menular dari manusia ke manusia lewat droplet,” kata Ketua Tim Kerja Surveilans dan Penindakan Pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Balikpapan dr Siti Hatijah.

Baca Juga: Waspada Hantavirus Andes, Penumpang Luar Negeri di Bandara Sepinggan Balikpapan Wajib Isi Aplikasi Ini

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, Hantavirus sudah pernah terdeteksi di Indonesia pada 1991. Kemudian sepanjang 2025-2026 sebanyak 23 kasus terkonfirmasi di 9 provinsi.

Kejadian paling banyak di Jakarta dan Jogjakarta. “Namun semuanya merupakan Hantavirus jenis Seoul yang menyerang ginjal,” tuturnya. Sedangkan Hantavirus jenis Andes belum pernah terdeteksi di Indonesia.

Gejala yang dimiliki kedua jenis virus ini berbeda. Andes menyerang sistem pernafasan dan Seoul menyerang ginjal. “Fatality rate Hantavirus sekitar 5-15 persen dan sebenarnya masuk risiko rendah,” imbuhnya.

Namun karena kejadian di kapal pesiar MV Hondius menyebabkan dua warga Belanda meninggal. Turut membuat risiko Hantavirus meningkat. Kini penyakit yang jadi diagnosis pembanding adalah leptospirosis.

Baca Juga: Ekonomi Kaltim Tancap Gas! Impor Bahan Baku Melonjak 84 Persen, Sinyal Industri Makin Ganas?

Mengingat penyebabnya sama dari tikus dan gejala yang muncul hampir mirip. Penegakan diagnosa dengan pemeriksaan laboratorium. Masa inkubasinya sekitar dua minggu untuk strain Seoul.

“Gejala demam dan lemas berdampak pada ginjal jika parah,” tuturnya. Siti mengimbau masyarakat selalu waspada melakukan pencegahan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Misalnya cuci tangan setelah beraktivitas, menggunakan masker dan sarung tangan untuk mereka yang beresiko terpapar. Seperti petugas kebersihan, petugas konstruksi, pegawai gudang, petani, dan sebagainya.

“Jika melewati daerah banjir atau genangan segera mandi dengan sabun,” tegasnya. Apabila merasakan gejala tersebut, segera melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Gejala Hantavirus Andes #Perbedaan Hantavirus Andes dan Seoul #Penularan Hantavirus #BKK Balikpapan