BMKG Ungkap Penyebab Balikpapan Diselimuti Mendung dan Bau Asap

Dina Angelina • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 09:09 WIB
Tampilan indikator kualitas udara Balikpapan pada aplikasi IQAir yang mencapai 103 untuk parameter PM2.5, Rabu (16/9/2026) dini hari. Kondisi ini masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)
Tampilan indikator kualitas udara Balikpapan pada aplikasi IQAir yang mencapai 103 untuk parameter PM2.5, Rabu (16/9/2026) dini hari. Kondisi ini masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Langit gelap diselimuti mendung tebal dan angin kencang melanda Kota Balikpapan sepanjang Rabu (16/9/2026). Namun, hujan yang dinantikan warga di tengah musim kemarau panjang tak kunjung turun.

Sebaliknya, warga justru mulai dikepung sebaran asap yang mengancam kualitas udara. Sejumlah warga juga mengeluhkan aroma asap yang menyengat sejak dini hari hingga subuh.

Pantauan aplikasi IQAir pada Rabu (16/9/2026) pukul 00.00 Wita mencatat indeks kualitas udara untuk parameter PM2,5 di Balikpapan mencapai angka 103. Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Baca Juga: Jadwal Pemadaman Listrik Penajam Hari Ini: Mati Lampu dari Perum BTN sampai Buluminung

Pada siang hari, pukul 13.00 WITA, indeks kualitas udara membaik menjadi 63 atau masuk kategori sedang.

Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, membenarkan meluasnya sebaran asap ke wilayah Balikpapan.

“Sebaran asap terpantau meluas ke area Balikpapan. Itu disebabkan pergerakan angin yang berbelok ke arah utara dan timur,” ujar Huda.

Huda menjelaskan, sebagian besar wilayah Kalimantan saat ini tertutup sistem awan berskala luas akibat aktivitas Gelombang Rossby dan Kelvin yang aktif di wilayah Indonesia tengah. Fenomena tersebut memicu pertumbuhan awan hujan secara masif. Kendati demikian, curah hujan yang dihasilkan tidak merata.

“Seperti halnya yang terjadi di Balikpapan, wilayah ini hanya tertutup awan mendungnya saja,” jelasnya.

Baca Juga: Aktivitas Baru Purbaya Usai Tak Lagi Jadi Menkeu, Pamer Beri Makan Ikan

Ia menambahkan, pembentukan awan sangat bergantung pada kondisi suhu dan kelembapan. Jika suhu permukaan naik dan kelembapan atmosfer mencukupi, proses konveksi atau pertumbuhan awan hujan akan terbentuk dengan cepat.

“Sementara apabila suhu permukaan lebih dingin dan lapisan di atasnya panas, proses pertumbuhan awan akan terhambat karena massa udara kering akan menekan uap air dan turun ke permukaan,” pungkas Huda. (*)

Editor : Ery Supriyadi
kabut asap BMKG Balikpapan kualitas udara balikpapan