KALTIMPOST.ID-Kabar baik datang bagi masyarakat Berau dan pelaku sektor pariwisata. Maskapai AirAsia dikabarkan akan kembali melayani penerbangan dari dan menuju Berau mulai 1 Juli 2026 setelah menghentikan sementara operasionalnya sejak 1 Mei lalu.
Informasi tersebut disampaikan Kepala BLU UPBU Kelas I Kalimarau Patah Atabri. Menurut dia, pihak Bandara Kalimarau telah menerima informasi awal terkait rencana AirAsia untuk kembali mengoperasikan sejumlah rute penerbangan di Kalimantan. “AirAsia akan segera mengudara kembali pada 1 Juli mendatang,” ujarnya.
Patah menjelaskan, saat ini maskapai masih melakukan berbagai persiapan teknis dan operasional. Jika seluruh proses telah rampung, AirAsia akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada pihak bandara melalui surat. “Saat ini maskapai sedang mempersiapkannya. Jika sudah final, mereka akan bersurat,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima pihak bandara, AirAsia direncanakan kembali melayani rute Surabaya–Balikpapan–Berau dan Surabaya–Balikpapan–Tarakan.
Kembalinya layanan tersebut diharapkan bisa memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus menambah pilihan transportasi udara bagi masyarakat.
Selama masa penghentian sementara operasional AirAsia, masyarakat dan wisatawan yang bepergian dari dan menuju Berau harus mengandalkan maskapai lain.
Kondisi tersebut turut memengaruhi mobilitas penumpang, terutama menjelang musim liburan dan meningkatnya aktivitas perjalanan pada pertengahan tahun.
Patah menilai kehadiran kembali AirAsia akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Berau selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kaltim dengan daya tarik Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. “Kami harap kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat Berau maupun wisatawan,” ujarnya.
Ia menambahkan, semakin banyak maskapai yang melayani penerbangan ke Berau akan semakin baik bagi perkembangan daerah.
Selain meningkatkan aksesibilitas, persaingan antarmaskapai juga berpotensi menghadirkan lebih banyak pilihan jadwal dan layanan bagi penumpang.
Sebelumnya, Wakil Bupati Berau Gamalis menyebut berkurangnya frekuensi penerbangan merupakan keputusan bisnis maskapai yang dipengaruhi berbagai faktor operasional, termasuk biaya bahan bakar.
Meski demikian, ia menegaskan konektivitas udara memiliki peran vital bagi Berau yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Karena itu, pemerintah daerah berharap layanan penerbangan ke Berau terus terjaga agar mendukung mobilitas masyarakat, investasi, dan pertumbuhan sektor pariwisata di Bumi Batiwakkal. (sen/kpg/rd)
Editor : Romdani.