Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Anak-anak Tuna Rungu Berau Memukau Lewat Teater Inklusi Pertama

Redaksi KP • Minggu, 14 Juni 2026 | 20:02 WIB
PERTUNJUKAN: Sebanyak 20 anak SLB Tanjung Redeb berhasil mempersembahkan teater berjudul “Kue itu Bernama Sarang Semut”, Minggu (14/6).  (IZZA/BP)
PERTUNJUKAN: Sebanyak 20 anak SLB Tanjung Redeb berhasil mempersembahkan teater berjudul “Kue itu Bernama Sarang Semut”, Minggu (14/6). (IZZA/BP)

Tepuk tangan panjang bergema di Ballroom eks Hotel Cantika, Minggu (14/6). Ratusan pasang mata tertuju ke panggung, menyaksikan sebuah pertunjukan yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

Sekitar 20 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Tanjung Redeb berdiri penuh percaya diri di atas panggung. Mereka membawakan pertunjukan teater berjudul Kue itu Bernama Sarang Semut.

Tak ada dialog yang diucapkan langsung oleh para pemain. Sebagian besar merupakan anak tuna rungu. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Melalui bahasa isyarat, gerak tubuh, dan ekspresi wajah yang kuat, mereka mampu menghidupkan cerita dan mengaduk emosi penonton.

Sore itu, panggung sepenuhnya menjadi milik mereka.

Banyak penonton tak menyangka anak-anak berkebutuhan khusus mampu tampil begitu luwes. Setiap adegan disambut antusias. Sesekali terdengar decak kagum ketika para pemain cilik menampilkan ekspresi yang matang dan gerakan yang terlatih.

Baca Juga: PKH Triwulan II 2026 Cair di Berau, Lebih dari 3.000 KPM Mulai Terima Bantuan

Di balik pertunjukan yang berlangsung kurang dari satu jam tersebut, tersimpan proses panjang selama hampir dua bulan. Para siswa mengikuti workshop dan latihan intensif dengan metode yang dirancang khusus sesuai kebutuhan mereka.

Kepala SLB Tanjung Redeb, Masluhi, mengaku bangga melihat anak didiknya mampu tampil di hadapan ratusan penonton.

“Menampilkan murid berkebutuhan khusus tentu tidak mudah. Prosesnya panjang dan membutuhkan pendampingan yang serius,” ujarnya.

Menurut Masluhi, pementasan tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini mungkin belum banyak diketahui masyarakat.

Di bawah sorotan lampu panggung, anak-anak itu seolah menyampaikan pesan sederhana namun kuat: mereka juga mampu.

“Anak-anak yang tampil hari ini membuktikan bahwa keterbatasan tidak menutup kesempatan untuk berkarya,” katanya.

Pementasan ini digagas Komunitas Literasi Gerobooks Berau bekerja sama dengan SLB Tanjung Redeb, serta didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV.

Ketua Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, menjelaskan bahwa seluruh proses pelatihan dilakukan dengan pendekatan berbeda dibanding teater pada umumnya.

“Ini adalah pertunjukan teater anak inklusi pertama di Berau. Treatment yang diberikan tentu berbeda karena kami harus menyesuaikan metode pelatihan dengan kebutuhan mereka,” jelasnya.

Selama pementasan berlangsung, para pemain juga didampingi guru pendamping serta pengisi suara yang membantu menjelaskan alur cerita kepada penonton.

Yang menarik, pertunjukan tersebut merupakan adaptasi dari buku cerita anak bergambar karya penulis dan ilustrator Berau berjudul Kue itu Bernama Sarang Semut. Kisah yang sebelumnya hanya hadir di lembaran buku itu kini hidup di atas panggung melalui gerak dan ekspresi para pemain cilik.

Bagi Gerobooks, teater ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cara baru memperkenalkan literasi kepada masyarakat.

“Literasi bisa dikembangkan menjadi berbagai media yang unik dan menyenangkan,” kata Risna.

Namun lebih dari itu, pertunjukan tersebut menghadirkan sesuatu yang jauh lebih penting: ruang yang setara.

Di atas panggung itu tak ada perbedaan antara anak berkebutuhan khusus dan anak lainnya. Yang terlihat hanyalah keberanian, semangat belajar, dan bakat yang tumbuh ketika diberi kesempatan.

Saat tirai pertunjukan ditutup dan tepuk tangan kembali bergema memenuhi ruangan, senyum lebar menghiasi wajah para pemain. Mereka mungkin tidak mendengar riuh apresiasi yang diberikan penonton.

Tetapi sore itu, mereka telah menyampaikan pesan yang terdengar sangat jelas.

Bahwa setiap anak berhak memiliki panggung untuk bersinar. Dan ketika kesempatan itu diberikan, mereka mampu menunjukkan keajaiban dengan caranya sendiri. (kpg/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#pertunjukan teater #SLB Tanjung Redeb #Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV. #sekolah luar biasa