PASER- Sukses mengembangkan pertanian, perikanan, hingga peternakan yang terprogram dan terencana. Semua terintegrasi. Industri atau unit usaha dijalankan mulai dari hulu ke hilir. Bahkan, program kemandirian sudah dikonsep jauh sebelum Pondok Pesantren Trubus Iman berdiri.
Mulanya dari pendiri pesantren yang memiliki pengalaman belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. “Mengambil pelajaran dari Gontor, bahwa (pesantren) bisa berkembang besar dan bisa idealis tanpa bergantung karena faktor kemandirian. Ada bantuan atau tidak, didukung pemerintah atau tidak, pesantren tetap berjalan. Hal itu menjadi perhatian sebelum mendirikan pesantren, jadi sudah ada unit usaha sebelum pesantren ini didirikan,” beber Daniar, pimpinan pesantren yang membidangi pendidikan dan amal usaha.
Sehingga sebelum 2011 pesantren berdiri, sudah ada sedikitnya 13 unit usaha yang dikembangkan. Di antaranya perkebunan hingga sarang walet. Seiring waktu terus bergeliat, melihat berbagai peluang dan utamanya bagaimana mengintegrasikan berbagai unit usaha yang ada.
Terdapat total sekitar 1.500 santri menimba ilmu di pondok pesantren yang beralamat di Desa Padang Pengrapat, Tanah Grogot itu. Dengan 800 santri mukim untuk jenjang madrasah sanawiah (MTs) dan madrasah aliah (MA).
“Ketika pesantren sudah didirikan, maka 13 unit usaha itu juga masuk proses wakaf untuk menunjang operasional. Perkebunan buah, ada rambutan, durian, salak, lalu perkebunan sawit, minimarket, air minum dalam kemasan (AMDK) sampai restoran,” lanjut Daniar.
Kini, sedikitnya sudah berdiri 28 unit usaha yang berada di bawah naungan Koperasi Produsen Trubus Iman. Dijelaskan jika sebelum 2022, semua unit usaha masih parsial. Dengan commanditaire vennootschap (CV) atau persekutuan perdata dan perseroan terbatas (PT). Lalu setelahnya, menginduk ke koperasi.
Pesantren memiliki manajemen tertata. Termasuk rencana strategis (renstra) lima tahunan. Apa yang akan dieksekusi tiap tahun. Salah satunya, industri hilir dari perkebunan enau atau aren yang sudah ditanam sebelumnya. Sudah masuk renstra akan dibuat industri gula aren.
“Sudah direncanakan untuk buat turunan produk. Dan ternyata program kami ngeklik dengan program Kementerian Agama yang inkubasi bisnis. Setiap semester kami sudah targetkan apa yang mesti dibuat. Dari kami ajukan biaya hampir Rp 400 juta, nah yang diterima Rp 100 juta. Meski ada atau tidaknya bantuan bisnis, rencana itu tetap berjalan,” papar Ketua Koperasi Produsen Trubus Iman itu.
Dikatakan Daniar, jika pada saat proses pengajuan proposal usaha, Pondok Pesantren Trubus Iman memiliki usaha paling unik. Di antara usaha lain seperti minimarket, penatu atau fotokopi. “Kok pabrik gula?” lanjutnya lalu terkekeh.
Dengan luas perkebunan 14 hektare, memang sudah dikonsep mesti ada produk turunan. Termasuk pada Ramadan ini, sudah dieksekusi pula untuk kolang-kaling. Sebelum Ramadan, sudah dipersiapkan untuk peralatan penunjang produksi.
“Jadi ada tiga produk turunan, yaitu nira dengan gula aren batok, kristal, dan cair. Lalu molase, produk sampingan dari industri pengolahan gula kemudian kolang-kaling tadi,” ungkap Daniar.
Sedikitnya, ada sekitar 136 karyawan yang diberdayakan pada seluruh unit usaha. Dengan komposisi 80 persen adalah masyarakat sekitar pesantren. Sama seperti usaha profesional pada umumnya, sumber daya manusia (SDM) dijelaskan Daniar adalah pilar.
Lokasi pesantren dikatakan jauh dari pusat kota. Berada 4 kilometer dari bibir pantai. “Bisa dibilang ada di pedalaman, tapi itu tidak membatasi. Apalagi di tengah era digital saat ini. Kita juga alhamdulillah diberi rezeki dari para pengusaha yang sudah selesai dengan urusan perutnya. Dibantu dengan transfer ilmu untuk pengembangan usaha. Mereka (pengusaha) rutin mentoring. Padahal, lokasi kami ada di kabupaten ujung,” jelasnya.
Sebagian besar pakar atau tim ahli yang membantu pengembangan usaha adalah pengusaha dari Jawa. Dikatakan jika sejak awal pihak pesantren aktif membuka jaringan. Apalagi, tujuan kemandirian pesantren memang komitmen untuk benar-benar serius jalankan bisnis untuk kepentingan umat.
Bahkan, para pakar itu juga tak jarang visit ke Paser. Mereka dengan senang hati datang dan membantu. Sebab, benar-benar serius jalankan usaha dan mengamalkan ilmu yang sudah disalurkan.
“Fokusnya memang amal usaha. Secara struktural juga terpisah dari pesantren, jadi selayaknya bisnis secara profesional. Ke depan, sudah banyak rencana akan dikembangkan. Seperti peternakan domba yang pada awal semester 2023, nah di awal semester 2022 atau satu tahun sebelumnya kami sudah siapkan pakannya dengan menanam rerumputan. Jadi, memang terintegrasi dan terstruktur. Adanya domba ini juga karena pupuk yang berasal dari kotorannya yang paling bagus. Untuk pemenuhan pupuk berbagai usaha di Trubus Sentra Agrobisnis (TSA),” ujar Daniar.
Contoh lain sebelum budi daya lebah trigona, terlebih dahulu sudah dipersiapkan berbagai tanaman bunga sebagai sumber nektar. Semua keuntungan unit usaha muaranya tentu untuk kemajuan pesantren.
Pangsa pasar juga potensial. Dengan nyaris 70 persen produk tersebar di Paser. “Seperti usaha AMDK Trubus Hijau Lestari. Mampu produksi 20 ribu karton dalam sebulan, untuk kemasan botol 10 ribu pak. Dan itu juga tidak semua Kabupaten Paser terhandel. Sebab produksi terbatas. Harus upgrade mesin dulu. Secara kualitas tentu bersaing, hasil lab bahkan sama dengan AMDK nasional. Peluang pasar alhamdulillah sangat besar, apalagi kalau bicara ini produk dari pesantren. Asal bisa bersaing utamanya kualitas dan kemasan,” terangnya.
Dengan berbagai unit usaha, Daniar mengaku bahwa pihaknya masih terus banyak belajar. Dalam menjalankan usaha juga tentu ada naik turun, plus minus. Fokusnya kini adalah mengelola dan mengembangkan berbagai aktivitas bisnis yang sudah ada. (ndu/k15)
RADEN RORO MIRA
Editor : Nugroho Pandu Cahyo