Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Memajukan Daerah lewat Lidi Nipah

Nasya Rahaya • Senin, 27 Mei 2024 | 22:32 WIB
Menjadikan nipah memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan cocok untuk dijadikan komoditas ekspor.
Menjadikan nipah memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan cocok untuk dijadikan komoditas ekspor.

BERMODALKAN tekad dan keyakinan tinggi, Evan Ikhsan Fadillah menggagas ide yang cukup brilian dan besar bagi anak seusianya. Gagasan tersebut, yakni memajukan Kaltim menjadi daerah yang tidak hanya bergantung pada ekspor batu bara dan migas, tapi juga unggul di komoditas lainnya. Salah satunya dari lidi nipah.

Mimpi ini tebersit saat Evan masih duduk di semester dua perkuliahan, tepatnya pada 2022. Saat itu, dia kerap menjelajah daerah-daerah terpencil. Langkah kakinya pun mengantarkannya sampai daerah terpencil di Sumatra. Di sana, Evan melihat banyak daerah yang wilayah demografisnya kecil tapi nilai produktivitas tinggi.

“Saya lihat ekosistem untuk ekspor di daerah tersebut terbentuk. Suaminya pergi berkebun sawit, istrinya di rumah mengolah kulit sawit,” terangnya. Tingkat kesejahteraan di daerah tersebut dia nilai cukup tinggi.

Melihat contoh daerah yang baik, Evan ingin mengadopsi hal tersebut ke daerahnya di Bumi Etam. Menurutnya, Kaltim punya potensi yang bagus untuk memenuhi komoditas ekspor. Eksplorasi pun dimulai. Sambil mengikuti banyak kelas-kelas eksportir ia mulai juga menjelajah ke berbagai daerah lain untuk melihat apa saja potensi daerah yang bisa dibawa ke pasar global.

Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan nipah yang saat ini menjadi tumpuan utama ekspornya, Evan pernah mencoba beberapa komoditas lain, yakni briket dan cangkang sawit. Namun, kendala biaya produksi dan proses pengolahan yang tinggi membuat mereka beralih mencari produk lain yang sesuai dengan potensi daerah mereka.

“Briket kami dapatkan supplier malah dari Jawa. Menghitung biaya pengolahan yang pastinya cukup tinggi karena antarpulau, saya mengesampingkan briket tersebut dan beralih ke cangkang sawit. Di Kaltim sendiri cangkang sawit memang melimpah,” jelas Evan. Bahkan sudah mendapatkan buyer dari Jepang, namun setelah melihat produk Evan tidak cocok dengan standar keinginan mereka, maka tidak dilanjutkan.

“Mereka butuh cangkang sawit yang sudah bersih atau yang sudah di-screening. Nah, sedangkan di Kaltim sendiri perusahaan yang menyediakan alat untuk screening itu hanya dua, dan itu ordernya selalu penuh. Jadi, cangkang sawit ini batal untuk diekspor,” sambungnya. Tidak ingin berhenti di situ, Evan melihat potensi sawit yang lain, yakni bungkil sawit.

Dia juga akhirnya mendapatkan calon pembeli dari Negeri Tirai Bambu yang tertarik pada bungkil sawitnya. Tidak ingin mengambil keputusan impulsif dan berbekal banyak pengetahuan eksportir, Evan dan timnya mengecek track record perusahaan calon buyer tersebut dan ternyata perusahaan tersebut memiliki banyak masalah dengan eksportir-eksportir lainnya dari Indonesia. Tidak ingin mengambil risiko, permintaan tersebut tidak jadi diterimanya.

Setelah berbagai upaya, mereka menemukan produk yang tepat untuk diekspor, yaitu lidi nipah. Di daerah yang juga mudah dijangkaunya, yakni Muara Jawa, Kutai Kartanegara. Daerah tersebut terkenal akan nipahnya. Setelah melakukan penjajakan beberapa kali sambil membangun kepercayaan dan bounding dengan supplier untuk membuat kontrak kerja sama, akhirnya Evan berhasil melakukan ekspor perdananya pada 2023.

Karena masih awal, ekspor tersebut menggunakan commanditaire vennootschap (CV) milik tantenya. Tidak terus-terusan mau bergantung pada orang lain, dia pun mengurus CV miliknya sendiri dan telah resmi memiliki legalitas pada awal tahun ini yang diberi nama CV Andanah Indonesia. “Saat ini, CV saya masih dalam tahap pengembangan, kami sedang dalam tahap pembuatan website dan membangun branding lewat media sosial,” ucapnya.

Saat ini, Evan dan timnya juga sedang mempersiapkan banyak hal, salah satunya mengikuti expo terakbar bagi para eksportir Indonesia. “Expo tersebut akan mendatangkan banyak importir dari luar negeri, ini akan menjadi peluang yang sangat besar. Kami sedang mempersiapkan hal tersebut sebaik mungkin,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, dirinya juga akan membangun kerja sama dengan importir dari Singapura untuk produk sapu lidi yang sudah jadi, selain mengekspor produk raw material, Evan juga dapat mengirim barang jadi seperti sapu lidi.

Untuk hasil turunan nipah sendiri dapat dimanfaatkan menjadi banyak produk seperti sapu lidi, alas karpet, campuran tripleks dan dupa. Oleh karena itu, kebanyakan buyer-nya berasal dari Asia Selatan, seperti, Bangladesh, Pakistan, India, dan Nepal. Dia juga mengungkapkan sekali pengiriman bisa 14 ton dan 28 ton, bergantung permintaan.

Dalam upayanya, Evan berfokus untuk mengembangkan bisnis dan membantu perekonomian daerah, dia berencana untuk menjelajahi lebih banyak komoditas dan memperluas cakupan pasar global. Harapannya adalah agar daerah-daerah di Kaltim dapat mengoptimalkan potensi dan kekayaan alam mereka melalui kegiatan ekspor, sehingga tidak ada yang terbuang percuma. (ndu/k15)

NASYA RAHAYA

@nasyarahaya

Editor : Nugroho Pandu Cahyo