KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Sejak puluhan tahun lalu, Pasar Inpres Kebun Sayur dikenal sebagai pusat perdagangan batu akik dan permata. Para pedagang di sini menawarkan berbagai macam batu akik cincin yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Stan-stan mereka mudah dijumpai, terutama di area khusus di mana para pedagang batu akik dan permata berkumpul.
Setiap batu yang mereka jual tidak hanya sebagai barang dagangan, tetapi juga sebagai karya seni alam yang mereka lestarikan.
Aro, seorang pedagang yang telah berjualan di pasar ini selama lebih dari 20 tahun, mengungkapkan bahwa minat terhadap batu khas Borneo mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun sempat mengalami masa sulit saat pandemi Covid-19, situasi saat ini sudah jauh berbeda.
"Safir dan zamrud masih cukup diminati. Begitu juga dengan batu akik asli Kalimantan seperti red borneo atau kecubung, yang biasanya dibeli oleh para kolektor," ungkap pria yang lahir di Kota Minyak ini.
Dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) dan meningkatnya kunjungan wisatawan, Aro merasakan bahwa Pasar Inpres Kebun Sayur semakin menunjukkan potensinya sebagai magnet ekonomi lokal yang unik.
Minat terhadap batu akik dan permata juga kembali meningkat setelah masa surut.
Aro menambahkan, para kolektor baik dari dalam maupun luar kota datang untuk mencari batu akik dan permata dengan kualitas terbaik dan motif yang unik.
Tingkat kerumitan ukiran dan kualitas pemotongan batu memainkan peran penting dalam menentukan harga. Semakin rumit dan halus ukiran atau semakin presisi dan unik pemotongan batu, semakin tinggi pula nilai dan harganya.
Proses memotong dan mengukir batu akik cincin tidaklah mudah. Aro mengaku bahwa ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya, dan ia belajar langsung dari orang tuanya yang juga pedagang batu akik dan permata.
Harga batu akik yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis batu, proses pemolesan, dan jenis cincin yang digunakan.
"Sering ada permintaan khusus untuk memotong batu dengan pola tertentu atau mengukirkan motif yang rumit. Ini mempengaruhi harga batu tersebut. Kolektor yang menghargai seni dan kerajinan tangan sering kali bersedia membayar lebih untuk mendapatkan batu akik cincin dengan ukiran atau pemotongan yang istimewa," jelasnya.
Pasar Inpres Kebun Sayur memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian lokal, khususnya bagi para pedagang seperti Aro. Pendapatan dari penjualan batu akik tidak hanya menghidupi mereka, tetapi juga berkontribusi pada aktivitas ekonomi di sekitar pasar.
Aro dan pedagang lainnya memiliki harapan besar untuk masa depan Pasar Inpres Kebun Sayur. Mereka berharap generasi mendatang tetap menghargai keindahan alam dan kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam batu akik dan permata lokal.
"Saya berharap lebih banyak orang, terutama dari luar daerah, datang ke pasar ini untuk melihat sendiri keindahan dan keragaman batu yang kami tawarkan. Tidak hanya untuk membantu kami secara ekonomi, tetapi juga mengangkat citra pasar tradisional ini sebagai tempat yang unik dan menarik," ujar Aro.
"Keberadaan Pasar Inpres Kebun Sayur ini bukan hanya tempat untuk berjualan, tetapi juga merupakan tempat di mana kita bisa belajar dari sejarah dan budaya. Kami berusaha untuk mempertahankan tradisi melalui seni batu akik dan permata yang kami tawarkan kepada pengunjung," tambahnya.
Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, para pedagang mulai memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan barang dagangan mereka secara lebih luas. Beberapa di antara mereka sudah memiliki toko online atau berpartisipasi dalam platform e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas di seluruh Indonesia.
"Selain offline, saya juga menjual secara online. Dengan adanya toko online, saya bisa menjangkau lebih banyak pelanggan potensial di luar kota, bahkan di luar pulau Kalimantan. Ini adalah langkah strategis untuk mengembangkan bisnis saya," kata Hardi, pedagang lainnya.
Editor : Thomas Dwi Priyandoko