Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Balikpapan dan Penajam Paser Utara Alami Deflasi pada Agustus 2024, Ikan Layang dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Utama

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 5 September 2024 | 18:30 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi.

 

KALTIMPOST.ID, Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan deflasi pada Agustus 2024 meskipun terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa peningkatan curah hujan yang berpotensi memicu banjir bisa memengaruhi ketersediaan pasokan pangan dan memicu inflasi.

Selain itu, kenaikan harga avtur secara nasional juga memengaruhi tarif angkutan udara, yang berpotensi meningkatkan inflasi di sektor transportasi.

Namun demikian, Indeks Harga Konsumen (IHK) Balikpapan pada Agustus 2024 mencatat deflasi sebesar 0,20 persen (month to month/mtm), lebih dalam dibandingkan deflasi pada Juli 2024 yang tercatat 0,09 persen (mtm).

Deflasi pada Agustus merupakan kali kedua berturut-turut setelah Juli. Tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) di Balikpapan mencapai 2,26 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,12 persen dan gabungan empat kota di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang mencapai 2,13 persen.

Beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi di Balikpapan pada Agustus 2024 meliputi ikan layang, kangkung, bawang merah, daging ayam ras, dan angkutan udara.

Robi Ariadi menyebutkan bahwa penurunan harga ikan layang disebabkan oleh peningkatan hasil tangkapan nelayan serta stabilnya permintaan dari masyarakat.

Selain itu, penurunan harga bawang merah terjadi akibat memasuki masa panen di beberapa sentra produksi di Jawa.

Penurunan harga angkutan udara terjadi setelah normalisasi tarif tiket pasca kenaikan signifikan selama periode liburan sekolah, serta penurunan permintaan tiket usai rangkaian acara di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, termasuk cabai rawit, bensin, popok bayi, dan tarif kendaraan travel.

Kenaikan harga cabai rawit terjadi akibat penurunan pasokan dari Jawa, sementara harga bensin naik akibat penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina sejak awal Agustus.

Kenaikan harga popok bayi diduga terjadi karena peningkatan harga dari pemasok, sedangkan tarif kendaraan travel meningkat karena tingginya permintaan selama perayaan HUT RI di IKN.

Penajam Paser Utara (PPU) Juga Alami Deflasi

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) juga mengalami deflasi sebesar 0,52 persen (mtm), lebih tinggi dari Balikpapan namun menurun dibandingkan deflasi pada Juli sebesar 1,08 persen.

PPU telah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Juni, dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 1,37 persen, lebih rendah dari inflasi nasional maupun gabungan empat kota di Kaltim.

Komoditas penyumbang deflasi terbesar di PPU berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan tomat, ikan layang, daging ayam ras, bawang merah, dan semangka menjadi komoditas utama.

Penurunan harga tomat dan semangka disebabkan oleh panen melimpah, sementara daging ayam ras mengalami penurunan harga akibat peningkatan pasokan.

Meskipun deflasi terjadi, Robi menegaskan bahwa penurunan harga tidak mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi.

Survei konsumen BI Balikpapan pada Agustus menunjukkan peningkatan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi, terutama dalam hal penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#penajam paser utara #BI BALIKPAPAN #deflasi #indeks harga konsumen (ihk) #balikpapan #agustus 2024 #Ikan Layang dan Bawang Merah