KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Terintegrasi dengan jaringan hotel brand internasional yakni Mercure & Ibis Hotel, City Centrum Mall sejak awal berdiri memilih konsep social mall. Dengan fokus pada tenant food and beverage (FnB) dan entertainment. Strategi ini terbukti berhasil.
Marketing & Leasing Manager City Centrum Halim Wijaya mengungkapkan, progress keterisian tenant di pusat perbelanjaan terbaru di Samarinda ini sudah mencapai 80 persen. Ada yang masih progress, ada juga yang sedang proses fit out untuk desainnya. Namun, yang pasti untuk sisa 20 persen, bakal difokuskan pada tenant FnB.
Dari pintu masuk, seluruh lantai dasar mall tersebut memang didominasi tenant kuliner. Selebihnya bisa dihitung jari. Seperti bioskop hingga wahana bermain anak yang khusus entertainment. Disebutkan jika memang sebagai social mall, tujuan utamanya bukan shopping atau belanja. Melainkan membangun pengalaman dan interaksi.
Hal itu juga didukung dengan berbagai gelaran event. Bahkan cukup rutin diadakan. Mulai dibuka untuk umum pada 2021, mal ini secara perlahan catatkan kenaikan kunjungan 20-30 persen setiap tahunnya. Apalagi dengan konsep event berbeda. “Dulu traffic itu naik turun, sekarang sudah cukup stabil. Perlahan naik ketika event sudah mulai jalan,” ujarnya, kemarin (15/10).
“Untuk tenant retail sudah cukup. Tapi ada perubahan nanti untuk yang di entertainment. Perubahannya apa? Tunggu saja, target tahun depan. Jadi memang untuk di entertainment itu supaya bisa menyentuh semua, mulai anak-anak sampai dewasa atau keluarga. Supaya enggak bosan, sehingga menarik minat kunjungan lebih lagi,” sebut Halim.
Dia mengatakan, saat ini memang trennya lebih banyak untuk nongkrong atau hangout. City Centrum coba memfasilitasi dengan berbagai pilihan tenant kuliner. Mulai camilan hingga makanan barat. Tradisional hingga western.
Halim juga menyampaikan jika pihaknya selektif dalam memilih tenant. Ada proses kurasi dari mereka yang ingin masuk di City Centrum. Hal itu juga terbukti, rata-rata tenant yang ada di sana unik, alias tidak ada di mall lain.
Itu juga yang menjadi dasar pengelola untuk membuat event berbeda pula. “Sudah ada (masuk timeline). Intinya belum pernah ada di Samarinda, kemungkinan akan jadi event pertama di Samarinda bahkan di Kaltim kalau enggak keduluan mall lain ya. Rencana eksekusi secepatnya, target akhir tahun ini,” ungkap Halim.
Konsepnya pun ada yang memang dari internal pengelola hingga kerjasama pihak luar. Hadirkan wahana unik atau berbeda. “Dulu kan pernah ada Rumah Hantu Teror Hantu Kuyang, Spectrum (spot foto instagramable), hingga Dino Island. Kan sudah lama enggak ada, nah bakal ada lagi tapi tentu beda. Jadi menawarkan kebaruan, itu juga yang menjadi daya tarik untuk kunjungan,” sambungnya.
Menawarkan hal berbeda tidak ada di tempat lain, sehingga tidak ada pilihan selain harus datang ke sana. Sehingga tak jarang mall tersebut jadi lokasi meeting atau pertemuan bisnis sambil makan siang. Terlihat dari pengunjung dengan pakaian seragam rapi, berbincang santai ditemani makanan di depannya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo