KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Nilai ekspor Kaltim pada September 2024 mengalami penurunan signifikan sebesar 20,27 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Yakni dari USD 2.048,06 juta menjadi USD 1.632,91 juta. Penurunan tersebut disebabkan melemahnya kinerja sektor migas dan non-migas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana mengatakan, sektor migas mengalami penurunan sebesar 4,49 persen, sementara sektor non-migas turun lebih dalam, yakni 21,25 persen. Penurunan ekspor migas terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga minyak dunia.
"Nilai ekspor migas tercatat USD 114,42 juta, lebih rendah jika dibandingkan Agustus yang tercatat USD 119,80 juta. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas mencatat sebesar USD 1.518,49 juta, lebih rendah dibanding Agustus sebesar USD 1.928,26 juta," bebernya, kemarin (4/11).
Penurunan nilai ekspor migas disebabkan oleh turunnya nilai ekspor hasil minyak, meski nilai ekspor gas meningkat. Nilai ekspor hasil minyak turun 15,10 persen. Dari yang semula USD 74,06 juta pada Agustus 2024, menjadi USD 62,88 juta. Sedangkan nilai ekspor gas naik 12,68 persen. Dari sebesar USD 45,74 juta pada Agustus 2024 menjadi USD 51,54 juta.
Yusniar menyebut, secara total jika dibandingkan September 2023 nilai ekspor turun 14,55 persen. Dari sebesar USD 1.910,92 juta pada September 2023 menjadi USD 1.632,91 juta pada September 2024. Secara kumulatif, nilai ekspor Kaltim selama Januari-September 2024 tercatat USD 17.861,60 juta atau turun 13,30 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa penurunan ekspor non-migas disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya melemahnya permintaan global terhadap beberapa komoditas ekspor utama Kaltim, seperti batu bara dan hasil hutan.
Namun, di tengah penurunan secara keseluruhan, terdapat beberapa catatan positif. Nilai ekspor golongan barang besi dan baja mengalami peningkatan signifikan sebesar 77,74 persen. Namun, di sisi lain, golongan barang pupuk mengalami penurunan drastis sebesar 91,93 persen.
Komoditas lain dengan peningkatan nilai ekspor cukup besar adalah golongan kayu dan barang dari kayu. Naik sebesar USD 2,94 juta atau 33,99 persen. Dan golongan barang garam, belerang, batu dan semen yang naik USD 0,59 juta atau 11,87 persen.
“Selama Januari-September 2024, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan kontribusi 99,67 persen terhadap total ekspor nonmigas. Golongan barang yang memberi andil terbesar terhadap total ekspor adalah bahan bakar mineral dengan kontribusi sebesar 81,70 persen," terang Yusniar.
Peningkatan ekspor besi baja didorong oleh meningkatnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama, seperti Tiongkok dan India. Sampai saat ini, Tiongkok tetap dominan. Masih menjadi tujuan ekspor utama Kaltim, menyumbang 35,43 persen dari total ekspor non-migas selama Januari-September 2024. Namun, nilai ekspor ke Negara Tirai Bambu ini juga mengalami penurunan. Seiring dengan menurunnya nilai ekspor Kaltim.
Secara sektoral, penurunan ekspor Kaltim didominasi oleh sektor tambang dan industri. Tambang mengalami penurunan sebesar 7,23 persen, sementara sektor industri turun 26,02 persen. Sebaliknya, sektor pertanian menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan pertumbuhan sebesar 40,91 persen.
"Periode Januari-September 2024, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor dengan peranan 74,29 persen. Hasil industri di peringkat kedua dengan 16,45 persen dan nilai ekspor migas pada posisi ketiga dengan peranan 9,08 persen," lanjut Yusniar.
Penurunan ekspor Kaltim tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Untuk mengatasi hal ini, berbagai upaya perlu dilakukan, seperti diversifikasi produk ekspor, peningkatan kualitas produk, dan perluasan pasar ekspor. Meningkatkan daya saing produk-produk unggulan daerah, sehingga mampu menembus pasar global yang semakin kompetitif. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo