KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Neraca perdagangan Balikpapan mencatatkan hal yang positif pada September 2024, dengan surplus sebesar 66,29 juta dolar. Pencapaian ini didorong oleh sektor nonmigas yang masih menunjukkan performa kuat, meskipun sektor migas mengalami defisit signifikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama P menyatakan, sektor nonmigas tetap menjadi pendorong utama surplus perdagangan daerah.
“Surplus yang tercatat pada September 2024 ini adalah hasil dari kontribusi sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar 267,18 juta dolar. Namun, di sisi lain, sektor migas mengalami defisit sebesar 200,90 juta dolar,” ungkap Marinda.
Dia mengemukakan, neraca perdagangan Balikpapan untuk periode Januari hingga September 2024 tercatat mengalami surplus sebesar 1.560,63 juta dolar. Hal ini didorong oleh surplus yang signifikan pada sektor nonmigas yang tercatat sebesar 3.056,67 juta dolar, meskipun sektor migas mengalami defisit yang cukup besar, yakni sebesar 1.496,04 juta dolar.
“Tentu saja, kinerja sektor migas perlu mendapat perhatian lebih, mengingat kontribusinya yang masih cukup besar terhadap neraca perdagangan Balikpapan,” ujarnya ketika ditanya mengenai sektor yang paling mendominasi.
Pada September 2024, BPS juga melaporkan bahwa nilai impor Balikpapan tercatat sebesar 3.408,37 juta dolar. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 7,29 persen jika dibandingkan Agustus 2024, yang tercatat sebesar 3.175,42 juta dolar. Kenaikan impor ini terutama disebabkan oleh peningkatan nilai impor sektor migas dan nonmigas.
Secara spesifik, impor migas pada September 2024 tercatat sebesar 263,78 juta dolar. Sedikit lebih tinggi, dibandingkan dengan impor migas pada Agustus 2024 yang hanya tercatat sebesar 259,49 juta dolar. Demikian pula, impor nonmigas tercatat mengalami peningkatan sebesar 19,31 persen, yakni sebesar 144,59 juta dolar, dibandingkan dengan nilai impor nonmigas pada Agustus 2024 yang tercatat sebesar 121,15 juta dolar.
Namun, jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu, nilai impor pada September 2024 justru mengalami penurunan sebesar 8,60 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah yang tercatat sebesar 49,11 persen atau sekitar 146,80 juta dolar.
Dalam hal negara asal barang impor, Tiongkok masih mendominasi dengan nilai impor sebesar 63,70 juta dolar, diikuti oleh Angola yang mencatatkan nilai impor sebesar 75,76 juta dolar. Jepang berada di posisi ketiga dengan nilai impor sebesar 10,45 juta dolar.
“Peran negara asal impor cukup signifikan dalam menentukan jalannya perdagangan internasional kami. Singapura, sebagai negara asal terbesar barang yang diimpor, memberikan kontribusi sebesar 88,57 juta dolar atau sekitar 26,36 persen dari total impor Balikpapan selama periode Januari-September 2024,” jelas Marinda.
Selain Singapura, Nigeria juga menunjukkan peranan besar dengan nilai impor mencapai 76,33 juta dolar (13,41 persen), diikuti oleh Angola yang mencatatkan impor sebesar 75,76 juta dolar (12,64 persen).
Melihat perkembangan neraca perdagangan yang positif pada sektor nonmigas, Marinda mengingatkan bahwa tantangan masih ada, terutama terkait dengan sektor migas yang mengalami defisit cukup besar.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Balikpapan adalah fluktuasi harga minyak dunia yang mempengaruhi biaya impor migas, terutama minyak mentah.
“Meskipun sektor nonmigas memberikan kontribusi positif yang signifikan, Balikpapan juga perlu terus memperhatikan sektor migas, terutama karena ketergantungan daerah ini terhadap pasokan energi dan bahan bakar,” tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo