Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kutim-Berau Jadi Daerah Favorit Agribisnis Skala Besar di Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 15 November 2024 | 06:35 WIB
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana

SAMARINDA – Pertanian merupakan salah satu usaha penting yang memanfaatkan sumber daya alam, baik secara tradisional maupun modern, untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, dan energi.

Di Kalimantan Timur, sektor pertanian mencerminkan keragaman dan dinamika, dengan pelaku usaha yang terdiri dari petani perorangan hingga perusahaan pertanian berbadan hukum.

Pelaku usaha pertanian di Kaltim beragam. Mulai petani perorangan yang mengelola lahan secara mandiri, hingga perusahaan pertanian yang menjalankan kemitraan dengan petani lokal, seperti perkebunan plasma untuk komoditas kelapa sawit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, 308 perusahaan pertanian di Kalimantan Timur berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sementara 46 perusahaan lainnya merupakan Penanaman Modal Asing (PMA).

“Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023), perusahaan pertanian di Kaltim menyerap tenaga kerja hingga 176 ribu orang pada 2022. Baik sebagai budidaya pertanian dan jasa pertanian serta pekerja administrasi. Selain merekrut masyarakat untuk menjadi pekerja, perusahaan juga membangun kemitraan dan pertanian plasma untuk memberikan kesempatan masyarakat terlibat aktif dalam ekonomi produktif,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana merujuk data Publikasi Potensi Pertanian Kaltim 2024.

Kemitraan dan pertanian plasma tersebut mendukung pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya kegiatan itu, diharapkan Yusniar terjadinya peningkatan produktivitas pertanian. Ada jaminan pasar dan harga bagi para petani yang akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

Sebanyak 187 perusahaan di Kaltim telah melakukan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha sebagai plasma dan perusahaan sebagai inti, dengan sekitar 5,65 persen atau 11,86 ribu UTP (usaha pertanian) telah menjadi bagian kemitraan atau pertanian plasma dengan perusahaan di wilayahnya.

Yusniar mengungkapkan, jika kondisi geografis yang mendukung, serta akses mudah untuk kegiatan agribisnis berskala besar, membuat Kutai Timur dan Berau menjadi lokasi favorit bagi perusahaan pertanian. Kemitraan antara perusahaan dan petani lokal diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi, serta memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Namun, sektor pertanian di Bumi Etam menghadapi beberapa tantangan, seperti alih fungsi lahan dan rendahnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor tersebut. Berdasarkan data ST2023, sekitar 33 persen pengelola usaha pertanian berusia 55 tahun ke atas, sedangkan yang berusia di bawah 35 tahun hanya 11 persen.

“Dengan cukup banyaknya pengelola pertanian yang berusia tua, pemerintah juga perlu menyesuaikan program pelatihan dan bantuan agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka,” lanjut Yusniar.

Penurunan jumlah petani dapat berdampak pada ketahanan pangan wilayah, karena akan bergantung pada impor dan rentan terhadap fluktuasi harga serta distribusi. Oleh karena itu, program regenerasi petani seperti Program Petani Milenial Kaltim diharapkan dapat menarik minat generasi muda melalui pendidikan dan pelatihan terkait modernisasi pertanian.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pertanian, termasuk pemberian penyuluhan tentang teknologi pertanian, manajemen sumber daya alam yang baik, serta praktik pertanian yang ramah lingkungan. Bantuan berupa pupuk subsidi, sarana atau alat pertanian, bibit, dan akses modal juga diberikan untuk meringankan beban pelaku usaha dan meningkatkan produktivitas.

Kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga penting untuk pengembangan usaha pertanian. “KUR membantu pelaku usaha mendapatkan modal dengan suku bunga rendah untuk membeli peralatan, benih, dan pupuk, serta melakukan diversifikasi usaha. Keanggotaan dalam kelompok tani, peternak atau nelayan juga memperkuat daya tawar dalam mendapatkan akses terhadap sumber daya, teknologi, dan pemasaran hasil produksi,” ungkapnya.

Dengan berbagai strategi tersebut, diharapkan kesejahteraan masyarakat pertanian di Kaltim akan meningkat, serta sektor pertanian dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. (dwi)

Editor : Duito Susanto
#petani #pertanian #berau #kaltim #kutim