Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Menilik Potensi Ekspor Peserta TEI dari Kaltim: Sri Mulyani Meraup Berkah dari Olahan Pisang, Penuhi Permintaan Negara Tetangga

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 19 November 2024 | 09:05 WIB
TEKUN: Memulai usaha sejak 2018 dari keripik tanpa nama, Sri (tengah) kini mampu produksi ribuan pcs setiap bulannya. Hingga sanggupi permintaan satu ton keripik dari Malaysia.
TEKUN: Memulai usaha sejak 2018 dari keripik tanpa nama, Sri (tengah) kini mampu produksi ribuan pcs setiap bulannya. Hingga sanggupi permintaan satu ton keripik dari Malaysia.

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Siapa yang menyangka, dari membuat keripik dan dijual Rp 2 ribu di toko-toko kelontong, malah memenuhi permintaan satu ton pesanan dari Malaysia. Modal Rp 200 ribu, jika semakin ditekuni akan membawa hasil berkali-kali lipat seperti yang dialami Sri.

Sebagai ibu rumah tangga (IRT), Sri juga ingin memiliki tambahan pemasukan. Maka dengan kemampuannya, dia mengolah berbagai bahan menjadi keripik. Mulai keripik pisang, tempe, ubi, sale pisang hingga rengginang. Masih sangat sederhana, hanya dia kemas tanpa ada merek dan titip di warung-warung.

"Awal modal usaha itu cuma Rp 200 ribu. Jadi uangnya mutar dipakai untuk usaha. Terus coba ke salah satu toko snack yang agak besar di Bontang ini, eh baru tiga hari titip saya ditelpon sama orang dinas. Ditawari untuk melengkapi izin usaha, dari situlah awalnya," beber Sri.

Tidak ada harapan besar atas usaha yang dia rintis pada 2018 itu. Dia berpikir, berjualan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi namanya sudah rezeki. Produknya yang di bawah naungan PT Tumman Jaya Mulya semakin dikenal, apalagi khusus keripik sale pisang, bisa dibilang minim pesaing. Sehingga jadi produk unggulan. Itu juga yang jadi keripik paling best seller.

Lambat laun, jangkauan pasar semakin luas. Kirim ke luar kota karena tingginya pesanan. Dia juga miliki reseller. Mulai Sangatta, Tenggarong, Muara Badak, Samarinda bahkan Balikpapan. "Bahkan ke Melak juga ada. Sekali pesanan itu bisa bawa 800-1.000 bungkus keripik," lanjutnya.

Dalam sebulan, sedikitnya 3.000 bungkus aneka keripik dia produksi. Jika pesanan sedang banyak, bahkan hingga 4.000 lebih. Bahan baku khususnya pisang, dia kerjasama dengan petani di daerah Teluk Pandan. Apalagi pisang awak yang terkenal berbiji, jarang yang melirik.

"Jadi ya petani itu mengeluh, pisang awak enggak laku, enggak ada yang beli. Jadi saya bilang sama mereka, bapak rawat saja, saya yang beli. Tiga petani yang kerjasama itu saya bisa dapat 300-500 sisir," sebutnya.

Selain itu, dia juga mengikuti pendampingan kelas ekspor dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim. Dari sana, dia menyadari bahwa ada potensi pengiriman luar negeri untuk produknya. Pengiriman sampel mulai India hingga Swiss. Mengikuti berbagai business matching. Perjalanan potensi ekspor berlanjut hingga Trade Expo Indonesia (TEI). Jadi pengalaman perdana pada Oktober lalu.

"Ada deal dengan buyer Malaysia. Rencana satu ton, dengan 500 kilogram keripik pisang dan 500 kilogram keripik pisang sale. Nah ini lagi nunggu purchase order (PO) sama down payment (DP) turun. Kalau sudah ada, tinggal dibikinkan," papar Sri.

Banyak potensial buyer yang didata Sri sepulang dari TEI. Termasuk India yang tertarik dengan keripik tempe, pisang dan sale. "Pengalaman pertama kemarin ikut TEI. Benar-benar mendapat ilmu luar biasa terkait pemasaran. Mengenal potensi buyer, memang peluangnya besar," bebernya.

Bicara bahan baku hingga kapasitas produksi, diakui Sri semua mencukupi dan memadai. Dia juga paham benar, jika ekspor, tentu tak bisa tawar-menawar perihal kuantitas dan mesti kontinu. Dia siap menjemput pasar lebih luas. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo