Lalu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,41 persen dan kelompok kesehatan sebesar 5,32 persen. Adapun kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks (deflasi) yoy antara lain perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,03 persen; kelompok transportasi 0,99 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,50 persen.
"Pada Oktober 2024, kelompok pengeluaran yang berkontribusi signifikan terhadap inflasi meliputi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,89 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 0,11 persen; serta kesehatan sebesar 0,16 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi deflasi adalah transportasi sebesar 0,14 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen," papar Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, kemarin (29/11).
Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi yoy pada Oktober 2024 antara lain beras, emas perhiasan, sigaret kretek mesin (SKM), ikan layang, tarif rumah sakit, dan kopi bubuk. Sebaliknya, komoditas seperti bensin, angkutan udara, dan telepon seluler berkontribusi pada deflasi yoy.
Berbeda dari tahun sebelumnya hanya dua daerah utama yang dipantau, tahun ini ada empat kabupaten/kota yang menjadi daerah pemantauan, yaitu Berau, Penajam Paser Utara, Balikpapan, dan Samarinda. "Berau dan Penajam Paser Utara merupakan tambahan baru dari survei sebelumnya pada 2018,” bebernya.
Sedangkan untuk inflasi kumulatif sepanjang tahun ini hingga Oktober inflasi kumulatif di bawah 2 persen. Tepatnya di angka 1,08 persen year to date (ytd). Kenaikan harga masih dialami oleh hampir seluruh kelompok pengeluaran, kecuali kelompok pengeluaran transportasi serta Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang alami deflasi.
Kelompok pengeluaran kesehatan mencatat inflasi tertinggi tahun kalender (ytd) hingga Oktober 2024 sebesar 5,03 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,70 persen.
"Meski demikian, secara umum, inflasi kumulatif di Kaltim masih terkendali, tetapi perlu ada pengawasan dan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat di wilayah ini ke depannya," lanjut Yusniar.
Sementata pergerakan inflasi bulanan month to month (mtm) selama 2024 cukup berfluktuasi, dengan peningkatan inflasi yang cukup tinggi pada Maret dan April 2024 akibat momen Ramadan dan Idulfitri. “Komoditas seperti beras, cabai rawit, telur ayam ras, dan emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi bulanan pada Maret 2024, sementara angkutan udara, tomat, dan bawang merah menjadi penyumbang utama inflasi pada April 2024," beber Yusniar.
Selama 2024, beberapa kali terjadi deflasi dengan penurunan indeks harga pada Juni, Juli, Agustus, dan Oktober 2024. Komoditas yang memberikan kontribusi dominan terhadap deflasi bulanan antara lain tomat, bawang merah, ikan tongkol, beras, dan angkutan udara.
"Menjaga stabilitas inflasi di Kaltim adalah tantangan yang kompleks dan membutuhkan upaya berkelanjutan dari berbagai pihak. Dengan koordinasi yang baik dan kebijakan yang tepat, diharapkan inflasi dapat tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo