KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Perkembangan teknologi digital yang pesat, khususnya internet, memberikan angin segar bagi dunia usaha. Namun, pemanfaatan internet oleh Industri Mikro dan Kecil (IMK) di Kalimantan Timur masih belum optimal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim 2024, baru sekitar 58,96 persen IMK di Kaltim yang memanfaatkan internet dalam kegiatan bisnisnya pada 2023. Meski mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni dari 49,52 persen, angka ini dinilai masih jauh dari ideal.
“Penggunaan internet dalam dunia usaha dapat berubah dari fungsi sebagai alat untuk hanya pertukaran informasi secara elektronik, menjadi alat untuk aplikasi strategi bisnis seperti pemasaran, penjualan dan pelayanan pelanggan. Pemasaran di internet cenderung menembus berbagai rintangan, batas wilayah dan tanpa aturan yang baku,” sebut Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Sedangkan pemasaran konvensional, barang mengalir dalam partai-partai besar, melalui pelabuhan laut, kontainer, distributor, lembaga penjamin, dan banyak lainnya. Dikatakan Yusniar, pemasaran di internet sama dengan direct marketing, di mana konsumen berhubungan langsung dengan penjual. Walaupun penjual berada di beda daerah.
Industri makanan menjadi sektor yang paling banyak memanfaatkan internet yakni 59,04 persen, diikuti oleh industri minuman 8,69 persen dan pakaian jadi 8,33 persen. “Sedangkan klasifikasi industri lainnya masih relatif kecil di bawah 5 persen,” lanjut dia.
Sementara itu, IMK yang tidak menggunakan internet dalam menunjang kegiatan usahanya sebanyak 41,04 persen. Secara akumulasi, didominasi oleh industri makanan dengan porsi 54,83 persen serta industri pengolahan lainnya yakni 9,46 persen.
Pemanfaatan internet bagi IMK sangat beragam dan bervariasi. Jenis pemanfaatan yang paling dominan yakni pemasaran atau penjualan produk sebesar 43,50 persen. selanjutnya 33,02 persen menggunakannya untuk sarana promosi atau iklan. Sementara sisanya, ada yang sebagai sarana untuk pembelian bahan baku 13,70 persen dan pencarian informasi 9,58 persen. (*)
“Hanya 0,20 persen IMIK yang menggunakan internet sebagai sarana untuk melakukan pinjaman financial technology (fintech) atau pinjaman online,” ungkap Yusniar.
Berdasarkan sebaran kabupaten/kota dari total IMK yang menggunakan internet, paling banyak berada di Kutai Kartanegara sebesar 17,19 persen, diikuti Samarinda 16,54 persen dan Balikpapan 15,60 persen.
“Namun jika diamati perbandingan jumlah usaha IMK yang menggunakan dengan tidak menggunakan internet secara spasial paling dominan di Bontang. Memanfaatkan internet dalam aktivitas usahanya sebesar 87,84 persen, diikuti Kutai Timur 70,73 persen dan Balikpapan 68,86 persen,” lanjutnya.
Beberapa kendala yang dihadapi UMKM dalam mengadopsi teknologi digital antara lain kurangnya pengetahuan, akses internet yang terbatas, serta biaya yang relatif tinggi. Namun, potensi yang dimiliki sangat besar. Internet dapat menjadi alat yang ampuh untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan daya saing. (*)
Editor : Muhammad Rizki