KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp 409 triliun pada akhir 2024, menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya. Melihat hasil positif tersebut, BSI kini menargetkan dapat mencapai total aset sebesar Rp 500 triliun pada tahun 2025.
Mengenai hal tersebut, Direktur Utama BSI Hery Gunardi menjelaskan, bahwa pencapaian tersebut tidak hanya berkat kinerja positif selama tahun lalu, tetapi juga strategi jangka panjang yang melibatkan pengelolaan cadangan emas dan potensi ekosistem haji.
Menurut Hery, untuk mencapai target pertumbuhan aset hingga Rp 500 triliun, BSI membutuhkan tambahan sekitar Rp 94 triliun. "Kami memiliki berbagai cadangan, salah satunya cadangan emas yang mencapai 17,5 ton. Dengan cadangan ini, kami optimis BSI bisa meraih posisi sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga di Indonesia dan bank syariah terbesar kelima di dunia," tuturnya.
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI juga berencana untuk terus mengembangkan segmen wholesale yang saat ini masih lebih kecil dibandingkan dengan segmen retail. Saat ini sekitar 70 persen portofolio BSI berasal dari segmen konsumen dan retail, sementara 30 persen berasal dari wholesale.
"Kami berencana untuk mempertahankan proporsi ini, tetapi sedikit menggesernya menjadi 65:35 guna memaksimalkan pertumbuhan di segmen korporasi dan komersial," kata Hery.
Dalam upaya meningkatkan dana pihak ketiga (DPK), BSI menilai sektor ekosistem haji sebagai salah satu peluang besar. Hery menambahkan, meskipun terdapat sekitar 22 juta orang yang memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji, hanya sekitar 5 juta orang yang memiliki rekening tabungan haji.
"Ini merupakan peluang yang sangat besar, dan kami berkomitmen untuk memanfaatkannya guna mengembangkan DPK kami," ucap Hery.
Dengan keberhasilan yang sudah diraih dan strategi yang terus berkembang, BSI berkomitmen untuk terus memperkuat posisi sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dan memperluas jangkauannya di pasar global. BSI juga mengoptimalkan potensi pasar emas melalui layanan bullion bank, yang menjadikannya sebagai bank emas pertama di Indonesia.
"Potensi emas di masyarakat sangat besar. Saat ini terdapat sekitar 1.800 ton emas yang tersebar di masyarakat, baik dalam bentuk perhiasan maupun logam mulia. Kami melihat peluang ini dapat meningkatkan aset dan DPK BSI secara signifikan," ujar Hery.
Hery menegaskan, dengan mengelola cadangan emas yang ada di masyarakat, BSI percaya akan tercipta multiplier effect yang dapat mendorong pertumbuhan besar-besaran. "Kami yakin, dengan mengelola potensi emas secara optimal, kami dapat meningkatkan aset dan DPK secara substansial, sekaligus mendekati target kami untuk mencapai total aset Rp 500 triliun," timpalnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo