KALTIMPOST.ID, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan. Terbaru, Kamis pagi (3 April 2025), rupiah dibuka di posisi Rp 16.772 per dolar AS.
Ini adalah level terlemah dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini tak hanya soal faktor global, tapi juga diduga kuat dipicu oleh kegaduhan di dalam negeri.
"Investor asing keluar karena mereka khawatir pemerintah akan terlalu jauh ikut campur dalam pasar modal, apalagi setelah dibentuknya Danantara dan pernyataan Prabowo soal saham itu judi," ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuabi.
Menurut Ibrahim, dua hal ini membuat investor panik dan kehilangan kepercayaan. Ditambah lagi, sentimen negatif dari pernyataan yang menyebut jatuhnya IHSG tak berdampak pada masyarakat kecil, membuat suasana pasar makin panas.
"Pasar modal butuh stabilitas dan kepercayaan, bukan justru ketakutan," tegasnya.
Sementara dari luar negeri, pengaruh datang dari kebijakan kontroversial Presiden AS, Donald Trump, yang menaikkan tarif impor untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia.
“Tarif impor baru ini bisa bikin ekspor kita makin berat,” kata Ibrahim. Amerika menetapkan tarif dasar 10 persen, tapi untuk Indonesia dikenakan hingga 32 persen. Ini membuat pelaku pasar makin waspada.
Di tengah tekanan global, Bank Sentral AS (The Fed) juga belum memberi sinyal jelas soal pemangkasan suku bunga, yang membuat pasar cenderung memilih aset aman seperti dolar. Rupiah pun terkena dampaknya. ***
Editor : Dwi Puspitarini