KALTIMPOST.ID, Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya. Bukan karena permintaan melonjak atau produksi menurun, tapi karena satu hal yang membuat banyak investor tak bisa tidur nyenyak, yaitu ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.
Pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), harga emas spot naik tipis 0,1 persen menjadi USD 2.984,16 per ons, sementara emas berjangka AS ditutup naik 0,5 persen di USD 2.990,20.
Lonjakan ini terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan melemahnya nilai dolar.
Baca Juga: WhatsApp Uji Coba Fitur Baru untuk Cegah Ekspor Chat dan Simpan Otomatis Media
Sejak awal 2025, harga emas telah naik sekitar 15 persen. Lompatan yang mencolok ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Situasi yang tidak pasti membuat emas kembali jadi primadona, meski nilainya tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Yang menarik, lonjakan ini muncul di saat imbal hasil obligasi 10 tahun AS menyentuh titik tertinggi dalam seminggu.
Biasanya, kondisi ini membuat emas yang tak memberikan “bunga” jadi kurang menarik. Tapi saat ini, kekhawatiran lebih besar daripada logika untung-rugi.
Baca Juga: Skandal Tarif 104 Persen ke China! Apakah Trump Sedang Memaksa Dunia Tunduk?
Tak hanya itu, para pelaku pasar kini menunggu risalah pertemuan terbaru The Fed, yang akan diumumkan hari Rabu waktu AS.
Banyak investor memprediksi ada kemungkinan sekitar 40 persen The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan Mei.
Sementara itu, perak justru turun 0,8 persen menjadi USD 29,86 per ons. Paladium juga ikut melemah 1,3 persen ke USD 906,75, sedangkan platinum naik tipis 0,2 persen ke USD 914,83. ***
Editor : Dwi Puspitarini