KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Angin segar berhembus kencang di perkebunan kelapa sawit Kalimantan Timur (Kaltim). Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Bumi Etam menunjukkan tren positif yang menggembirakan. Pada periode 16-30 April 2025, harga komoditas unggulan itu kompak naik di semua kelompok umur panen.
"Harga TBS di Kaltim pekan ini naik di setiap kelompok umurnya," ujar Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Andi Siddik, dalam keterangan resminya, Jumat (2/5).
Kenaikan harga tersebut, lanjut Andi, tak lepas dari performa apik harga jual Crude Palm Oil (CPO) perusahaan yang melambung hingga menyentuh angka Rp 14.379,83. Selain itu, harga kernel (inti sawit) rerata tertimbang juga ikut terkerek naik menjadi Rp 12.164,84 dengan indeks K sebesar 89,27 persen.
Sedangkan pada periode 1-15 April sebelumnya, harga CPO tercatat Rp 14.499,96. Sedangkan harga kernel di angka Rp 11.219,43 dengan indeks K sebesar 89,27 persen. Terjadi kenaikan tipis 0,58 persen.
Secara detail, Andi membeberkan harga TBS untuk periode 16-30 April 2025. Untuk TBS yang dipanen dari pohon berumur 3 tahun, harganya kini berada di angka Rp 2.949,91 per kilogram. Sementara itu, TBS dari pohon berumur 4 tahun dihargai Rp 3.144,63 per kilogram, dan untuk umur 5 tahun mencapai Rp 3.164,77 per kilogram.
"Untuk pohon berumur 6 tahun, harga TBS menyentuh Rp 3.199,13 per kilogram," sebutnya. Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok umur yang lebih tua. TBS dari pohon berumur 7 tahun kini dihargai Rp 3.218,68 per kilogram, umur 8 tahun sebesar Rp 3.242,68 per kilogram, umur 9 tahun mencapai Rp 3.311,89 per kilogram, dan yang tertinggi adalah TBS dari pohon berumur 10 tahun dengan harga Rp 3.350,70 per kilogram.
Andi menegaskan, daftar harga TBS sawit tersebut merupakan standar harga yang berlaku bagi petani yang telah menjalin kemitraan dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit (PKS) di Kaltim, khususnya bagi para petani plasma.
Dengan adanya kerjasama antara kelompok tani dan pihak PKS, diharapkan harga TBS petani dapat terjaga sesuai dengan harga normal dan tidak lagi menjadi permainan para tengkulak.
Langkah itu diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik bagi kelompok tani kelapa sawit di Kaltim melalui sinergi yang saling menguntungkan. (*)
Editor : Duito Susanto