Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Asa Muhammad Ferlian Ashari Menjaga Magis Kamera Analog di Era Digital

Nasya Rahaya • Sabtu, 7 Juni 2025 | 18:58 WIB
TARIK PERHATIAN: Untuk mengenalkan kembali kamera analog, Ferly kerap buat pop-up, bekerjasama dengan coffee shop.
TARIK PERHATIAN: Untuk mengenalkan kembali kamera analog, Ferly kerap buat pop-up, bekerjasama dengan coffee shop.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kecepatan kamera ponsel dan unggah foto digital tak dapat dihindari. Ponsel pintar dalam hitungan detik bisa menghasilkan puluhan foto. Jauh lebih mudah ketimbang beberapa dekade ke belakang.

Ketika gawai foto memerlukan beberapa tahap proses untuk bisa melihat hasil akhirnya. Namun, kenikmatan menghasilkan gambar dari kamera analog coba dipelihara Muhammad Ferlian Ashari.

Siapa sangka, esensi dari proses potret yang memerlukan waktu yang lama itu punya banyak pecinta, termasuk penggemar dari hasil kamera-kamera analog. Salah satunya Ferlian. Pria kelahiran 1999 itu selain menyukai hasil gambar dari kamera analog juga melihat peluang dari hobi potret-potret menggunakan kamera klasik.

Pria yang akrab disapa Ferly ini membuka jasa cuci dan pindai (scan) film kamera analog dan berbagai printilannya di Samarinda. Bisa dibilang saat ini dia tinggal satu-satunya yang melayani permintaan tersebut. Namanya Analog Klab. Meski hanya beroperasi dari rumahnya, bisnis ini menjadi oase langka bagi para pegiat fotografi klasik di Kaltim.

“Suka kamera analog itu mulai tahun 2017, masih awal masuk kuliah, karena jurusan yang aku ambil jurusan film dan televise. Nah setidaknya aku harus mengetahui basic perfilman itu apa saja, formatnya apa. Jadi aku mulai ulik kamera analog, aku beli kamera analog yang rusak harganya Rp 250 ribu dan satu roll film harganya waktu itu masih Rp 40 ribuan,” jelasnya kepada Kaltim Post.

Hobi baru itu hanya sempat dinikmatinya selama setahun, karena Ferly yang waktu itu masih kuliah budget-nya masih terbatas kalau terus mengikuti hobinya. Ditambah waktu itu di Kaltim belum ada pencucian atau scan film, industrinya sudah habis.

“Jadi kalau mau scan roll harus kirim ke Bandung dulu, biaya sekali scan film per roll-nya bisa 50 ribu, belum lagi ongkir bolak balik. Lumayan mahal buat aku,” ungkapnya.

Akhirnya Ferly memutuskan untuk menjual kamera analognya, kamera rusak yang diperbaikinya itu bisa dijual sampai Rp 1 juta, untung tiga kali lipat. Dari sana Ferly menyadari ada peluang untuk industri fotografi klasik.

Pengalaman Ferly di dunia seni visual bukan kali pertama atau sekedar menekuni hobi. Sejak SMK ia punya ketertarikan kuat dalam mendalami seni visual, sebab itu dia memilih jurusan multimedia. Ferly juga menuntaskan sarjananya pada 2020 di Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim. Setelah lulus Ferly bekerja sebagai fotografer dan pembuat konten di salah satu agensi branding di Samarinda.

Tapi kecintaannya pada analog tak benar-benar mati. Justru, pengalamannya bekerja di agensi memperlihatkan hal baru, interaksinya dengan beberapa klien yang juga ternyata penyuka analog masih banyak.

Bahkan, beberapa klien meminta jasa pre-wedding dan wisuda dengan medium film. “Aku sadar, ternyata banyak yang rindu pada sensasi itu. Enggak langsung kelihatan hasilnya dan kita harus nunggu,” katanya.

Dari pengalaman dan dana yang sudah coba dia kumpulkan, Ferly coba peruntungan, membuka Analog Klab pada Januari 2025. Di sana dia menawarkan jasa cuci (develop) dan pindai (scan) film. Untuk itu Ferly belajar secara otodidak, lewat YouTube, forum analog di Reddit, buku manual lama dan kepiawaiannya.

Dia juga menyediakan stok roll film, serta menjual kamera analog dalam jumlah terbatas. Ferly juga membuka jasa foto dengan kamera analog untuk pre-wedding, wisuda, hingga sesi keluarga. Harga jasa fotonya mulai dari Rp 600 ribu, belum termasuk roll film.

Ferly mengenakan tarif Rp 60 ribu per roll film untuk layanan cuci dan scan. “Tapi lebih murah dari pada harus kirim ke Jawa, karena enggak perlu ongkos kirim, dan bisa ditunggu hasilnya,” katanya.

Pelanggan pertama datang dari lingkaran teman. Lalu meluas lewat Instagram @analogklab.smr. Baru berjalan sekitar setengah tahun, saat ini dalam sebulan, Ferly bisa menerima hingga 30 roll film dari berbagai jenis yakni warna, hitam putih, bahkan disposable camera.

Pengguna jasanya sebagian besar datang dari generasi muda. “Ada anak SMP yang motret pakai analog. Padahal dia belum sempat merasakan masa-masa jaya kamera analog,” ucapnya, takjub. Ferly menyebut bisnis ini sebagai respons terhadap kebutuhan komunitas, bukan semata mencari cuan.

Ia menggelar aktivitas rutin bertajuk “keliling sambil motret” yang mengajak siapa saja (pengguna HP, digicam, hingga kamera analog) untuk menyusuri kota untuk mengabadikannya lewat masing-masing gawai. Mereka berjalan kaki, mencari momen lalu berdiskusi sambil ngopi di akhir sesi. “Buatku, fotografi analog itu bukan sekadar teknis. Ini soal relasi dengan waktu, dengan kota, dengan orang-orang,” ucapnya.

Kini, Ferly sedang merencanakan membuat sebuah ruang workshop kecil di depan rumahnya. Harapannya, nanti pelanggan bisa melihat langsung bagaimana proses film mereka dicuci dan dipindai. “Sekalian edukasi juga, supaya orang ngerti kerja di balik visual analog yang mereka nikmati,” katanya.

Ke depan, Ferly juga ingin membentuk komunitas fotografi analog di Samarinda. Ia membayangkan punya program semacam workshop, pameran zine hasil analog, hingga pelatihan mencuci film sendiri. “Kalau bisa aksesibel dan menyenangkan, kenapa enggak?” ucapnya.

Ferly tak sedang mengejar tren. Ia sedang membangun ekosistem kecil di mana kesabaran kembali bernilai dan setiap jepretan punya makna. Dia menunjukkan bahwa fotografi bukan soal seberapa cepat hasilnya muncul, tapi seberapa dalam seseorang terhubung dengan prosesnya, karena itulah yang disebut seni. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kamera klasik #Kamera Analog #foto #hobi #digital