KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bank Syariah Indonesia (BSI) terus memperkuat posisinya sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi syariah nasional. Tidak hanya lewat penguatan ekosistem Islam, BSI juga memantapkan diri sebagai pionir layanan perbankan emas, dua pilar yang kini menjadi mesin penggerak kinerja perseroan sepanjang 2025.
Disampaikan oleh Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna, hingga Mei 2025, total dana kelolaan dari ekosistem Islam telah menembus angka Rp 13 triliun, meningkat 12,81 persen (year to date/ytd). Namun menurutnya, capaian ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi BSI dalam menghadirkan layanan keuangan yang inklusif dan berbasis nilai-nilai Islam.
"Ekosistem Islam yang kami bangun menyentuh sektor-sektor strategis seperti pendidikan, gaya hidup halal, layanan kesehatan, hingga organisasi sosial keagamaan. Ini bukan hanya soal simpanan, tapi bagaimana kami hadir untuk menjawab kebutuhan komunitas muslim secara menyeluruh," ungkapnya.
Sektor sociobusiness dan halal lifestyle tercatat memberikan kontribusi tertinggi. Dana dari travel haji khusus menyumbang Rp 5 triliun, sementara layanan kesehatan berbasis Islam menyokong Rp3,2 triliun. Di segmen pendidikan Islam, dari tingkat dasar hingga menengah, tumbuh sebesar 10,2 persen menjadi Rp 4 triliun.
Anton juga menekankan bahwa BSI memiliki misi jangka panjang: menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam peta ekonomi Islam global. “Untuk menuju peringkat pertama dalam State of The Global Islamic Economy (SGIE), Indonesia perlu langkah strategis. Kolaborasi lintas sektor halal, dukungan kebijakan pemerintah dan digitalisasi layanan perbankan syariah harus menjadi fokus bersama,” terangnya.
Tak hanya fokus pada ekosistem syariah, bisnis emas turut menjadi sorotan. Sejak ditetapkan sebagai bank emas nasional pada Februari 2025, BSI mencatat lonjakan signifikan. Hingga April, total emas kelolaan mencapai 18,34 ton, mencakup gadai emas 7,3 ton, cicil emas 10,2 ton, dan aplikasi digital Byond sebesar 0,83 ton.
"Volume transaksi emas mencapai hampir 6 ton. Ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku masyarakat yang mulai memanfaatkan produk emas sebagai instrumen investasi syariah," jelas Anton. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo