CATATAN: Nugroho Pandu Cahyo
KALTIMPOST.ID - Publik Balikpapan tengah berduka. Salah satu anak muda terbaik di kota ini yang menjadi inspirasi banyak orang, Yaser Arafat berpulang ke rahmatullah. Kabar mengejutkan ini menghampiri saya setelah salat subuh, Rabu (16/7). Melalui beberapa pesan di grup WhatsApp.
Saya sebenarnya tahu sehari sebelumnya bahwa beliau kembali sakit dan masuk ruang ICU Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Bahkan saya berencana menjenguk Bang Yaser bersama beberapa jurnalis di Balikpapan. Namun takdir berkata lain. Allah lebih sayang kepada beliau, sebelum kami menjenguknya.
Saya terakhir komunikasi dengan Yaser tahun lalu. Tepatnya pada 22 dan 23 November 2024. Kebetulan saat itu saya sedang menjalani Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Bontang, mengambil jenjang utama. Dan saya mencantumkan Yaser Arafat sebagai salah satu narahubung kepada penguji bersama 19 orang lainnya.
Nah, saat ujian Yaser yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Balikpapan menjadi orang yang dipilih penguji untuk saya hubungi. Momen ini sangat penting bagi saya. Jika narasumber tidak mengangkat telepon, tentu nilai saya akan jelek. Sebaliknya jika narasumber mengangkat apalagi terlihat akrab, nilai saya pasti baik.
Alhamdulillah, pagi itu Yaser dengan kebaikannya langsung mengangkat panggilan telepon saya dan berkomunikasi sangat baik. Saya pun lulus di ujian tertinggi untuk jenjang jurnalis. Bukan hanya saya, pasti banyak juga jurnalis-jurnalis lain yang punya pengalaman serupa. Karena memang Yaser adalah salah satu pemimpin di Balikpapan yang sangat dekat dengan wartawan.
Saking baiknya, saat saya kembali ke Balikpapan, dia satu-satunya orang yang menelepon saya untuk menanyakan perihal ujian itu. Banyak canda tawa dan pastinya memeberikan selamat.
Bang Yaser, begitu biasa saya sapa adalah orang yang mengiringi perjalanan karir saya sebagai jurnalis. Dulu saat baru pertama menginjakkan kaki di Kaltim Post, Bang Yaser adalah salah satu orang pertama yang saya kenal. Tapi saat itu dia berstatus sebagai anak pemilik Persiba Balikpapan, Syahril HM Taher. Pada 2014.
Meski tidak masuk jajaran pengurus, Bang Yaser sering sekali memantau persiapan tim, saat berlatih di Stadion “Parikesit” Persiba. Kini bangunan ini sudah hilang, berganti gedung-gedung milik Pertamina. Dia hadir di lapangan, bertegur sapa dengan para jurnalis dan siapa saja. Orangnya memang seperti ini, meski menjadi salah stu orang tersohor di Balikpapan tapi kepribadiannya sangat rendah hati. Termasuk ke para juru parkir. Tak sekali saya melihat beliau bersenda gurau.
Bahkan dia kerap meminta penilaian ke masyarakat yang hadir ke Stadion Parikesit terkait pemain-pemain yang diseleksi. Masukan ini juga kadang disampaikan ke tim pelatih. Beginilah salah satu gambaran kedekatan masyarakat Balikpapan dengan tim kebanggaan, Persiba Balikpapan. Di zaman itu, setiap sore Stadion Persiba banyak didatangi pencinta bola. Menyaksikan pemain Beruang Madu berlatih. Layaknya sedang bertanding.
Beliau juga sangat kritis terkait pemilihan pemain Persiba. Sama seperti ayahnya yang memang gila bola, Yaser juga selalu berusaha mendampingi timnya saat bertanding. Terutama di laga-laga krusial.
Dengan kemampuan bahasa yang baik, dia sesekali berkomunikasi dengan para pemain asing. Bukan hanya bahasa Inggrisnya yang oke, tapi juga Arab. Salah satu pemain yang sempat berdiskusi dengannya adalah Anmar Almubaraki, gelandang serang Persiba saat bermarkas di Malang. Di bawah asuhan Timo Scheunemann.
Lama berkecimpung di sepak bola, saat saya mendapat penugasan di rubrik bisnis, Bang Yaser lagi-lagi menjadi orang yang berada di sekeliling saya. Orang yang selalu saya jadikan rujukan untuk menimba ilmu terkait bisnis. Sesuai kapasitasnya sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan.
Kami bahkan pernah berkesempatan berangkat ke Bali bersama untuk mengikuti pelatihan dari Bank Indonesia. Pada 2018 lalu. Saya bersama beliau satu pesawat. Duduk bersebelahan. Saat itu saya baru mengenal dunia bisnis. Memang wartawan itu dituntut untuk terus belajar. Memahami dunia-dunia baru. Walau memang tidak semuanya detail.
Nah, saat di pesawat itu Bang Yaser lah yang mengajari saya tentang bisnis. Sama sekali tidak pelit ilmu. Saya diajari mengenai persoalan bisnis mikro dan makro. Selama hampir dua jam perjalanan, saya seperti kuliah singkat. Mengambil beberapa mata kuliah.
Yang saya salut, beliau orang yang menjaga ibadah. Jadi saat sampai Bandara Ngurah Rai, tempat yang kami tuju pertama adalah musala. Kami salat berjamaah. Beliau juga sering mengingatkan saya terkait salat lima waktu.
Sampai di hotel, saya dibuat terkejut. Saat itu, Bank Indonesia memberikan kami kamar satu-satu. Tentu dengan kapasitas beliau sebagai Ketua Kadin Balikpapan, kamar yang disiapkan Bank Indonesia mungkin lebih bagus. Namun saat diresepsionis, dia mengembalikan kuncinya dan memilih bergabung dengan saya. Begitu rendah hatinya beliau. Mau sekamar dengan saya. Yang ternyata kamarnya satu kasur. Bukan twin.
Saya ingat betul, kami menikmati Bali dengan berjalan kaki. Mendatangi berbagai pantai di sekitaran hotel. Juga pusat perbelanjaan. Beliau tidak mau menggunakan mobil. “Toh ga ada yang kenal kita di sini Pandu. Jadi jalan aja kita,” ujarnya sembari keluar kamar.
Meski lebih senior, beliau berusaha membaur dengan saya yang usianya lebih muda. Bahkan tak segan meniru gaya saya saat berswafoto. Keramahannya. Senyumannya. Tawanya tak mungkin saya lupakan. Saya juga sangat ingat ketika dia membangunkan saya untuk salat subuh. Mengajak saya berjamaah di atas kasur tempat kami menginap.
Saking dekatnya kami, bahkan ada turis dari Australia yang menduga kami sepasang kekasih. Dia tinggal di sebelah kamar kami. Saya lupa namanya. Namun saat kami coba berkomunikasi dengannya, dia melontarkan pernyataan itu. Mungkin melihat kedekatan kami. Tinggal sekamar dan dengan kasur tunggal.
Selain berbicara bisnis, Bang Yaser juga kerap memberikan masukan-masukan kepada pemerintah daerah terkait program yang dijalankan. Dia selalu memperjuangkan nasib orang kecil. Bahkan tak segan menyentil penguasa agar programnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Satu yang diperjuangkan betul, yakni bagaimana pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa naik kelas. Juga memperjuangkan pelaku usaha di Balikpapan bisa merasakan dampak pembangunan di Kaltim. Termasuk Ibu Kota Nusantara. Semoga apa yang telah diperjuangkan bisa dilanjutkan teman-teman lain di Kadin Balikpapan.
Bang Yaser orang baik. “Sebaik-baiknya orang adalah dia yang bermanfaat buat orang lain.” Selamat jalan Bang Yaser. Semoga masuk surga. Amin. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo