KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Tak banyak yang tahu, brand kue kering “Novika Cookies” ternyata dirintis sejak Tuti Fitriani masih belia. Dia mengawali perjalanan bisnis kulinernya saat baru berusia 15 tahun. Dari dapur rumah dan bantuan sang kakak, dia mulai menjajakan kue buatan sendiri ke tetangga dan kenalan.
“Memang dari kecil saya suka masak, suka bikin-bikin kue,” ungkap perempuan kelahiran 1976 itu. Hobi tersebut terus berlanjut, bahkan semakin lihai dia berkreasi di dapur. Bahkan juga berkecimpung di dunia katering saat remaja. Namun titik balik datang ketika pandemi Covid-19 melanda.
Selama masa pembatasan aktivitas, Tuti kembali fokus di rumah. Dia pun mulai memproduksi kue kering secara intens. “Enggak bisa kemana-mana, jadi saya manfaatkan waktu buat produksi dari rumah. Saya juga nitip-nitip ke toko, ikut forum, dan mulai diajak pameran,” ceritanya. Dari sana, jalannya sebagai pelaku UMKM mulai terbuka lebar.
Meski saat itu belum punya nama usaha, produknya mulai dikenal. Baru setelah sering ikut forum dan pameran, dia memutuskan memberi nama usahanya Novika Cookies. “Dulu enggak pakai label. Namanya juga jualan biasa. Enggak terpikir kalau harus ada nama. Sekarang mulai pelan-pelan branding, karena ingin usaha ini punya identitas jelas,” katanya.
Produk andalan Novika Cookies antara lain kue kering dan akar kelapa. Menjelang Lebaran, permintaan melonjak tajam. “Mentega bisa habis 10 kilogram sendiri kalau sudah masuk musim Idulfitri. Biasanya saya juga bikin camilan khas lainnya,” kata Tuti. Semua produk masih dibuat di rumah, dengan rasa yang dijaga konsisten.
Tak hanya musiman, Tuti aktif menjajakan produknya setiap pekan di area Gedung Parkir Balikpapan dan memiliki tenant sendiri di Balikpapan Trade Center. Dia juga mulai menitipkan produknya di toko oleh-oleh. “Sekarang produksi setiap hari. Akar kelapa dan kue kering yang rutin suplai untuk toko oleh-oleh,” tambahnya.
Keseriusan Tuti untuk naik kelas terlihat saat dia diundang oleh dinas terkait untuk mengikuti pelatihan ekspor, Gebrak Pasar Internasional bulan lalu. Merupakan pengalaman perdananya.
“Waktu itu saya enggak sempat bawa sampel produk. Tapi pengalaman itu bikin saya makin yakin kalau akar kelapa ini potensial untuk dijual ke luar negeri,” ujarnya optimistis. Kini, dia fokus memperbaiki pengemasan dan branding untuk menghadapi pasar lebih luas.
Dalam tujuh bulan terakhir, diakui dia mulai membuka diri. Tawaran itu datang dari pengelola yang memberi ruang bagi 12 pelaku UMKM Balikpapan untuk memeriahkan Balikpapan Trade Center hingga Desember mendatang.
“Biasanya saya gabung bareng, ramai-ramai sama UMKM lain kalau misal ada stand atau tenant khusus. Tapi sekarang mulai coba berdiri sendiri. Respon pengunjung juga bagus. Ada yang mulai langganan,” kata Tuti.
Bahkan dia juga terlibat saat HUT Dekranas baru-baru ini di Balikpapan. Semakin memperkenalkan usahanya. Di sana, dia menawarkan aneka makanan khas Nusantara hingga camilan modern, semuanya hasil olahan sendiri.
Meski masih sederhana, langkah Tuti menunjukkan bahwa pelaku UMKM dengan ketekunan dan konsistensi bisa naik kelas. “Yang penting tetap produksi, tetap semangat, dan terus belajar. Peluang pasti datang kalau kita siap,” tutupnya. (*)
Editor : Duito Susanto