KALTIMPOST.ID, PANGKALAN KERINCI – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, memberikan pesan mendalam tentang makna kepemimpinan sejati kepada para peserta Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2025.
Dalam talkshow bertema “Champion of Good”, Veronica mengajak 291 penerima beasiswa Teladan dari Tanoto Foundation untuk membangun kepemimpinan yang bukan hanya cerdas, namun juga berakar kuat pada hati nurani.
“Menjadi pemimpin bukan hanya soal pintar atau punya gelar tinggi, tapi tentang bagaimana kita memelihara hati nurani. Akal dan budi tidak bisa dipisahkan. Akal yang kuat tanpa budi yang baik, tidak akan membawa kebaikan apa pun,” ungkap Veronica dalam sesi talkshow inspiratif tersebut.
Menurutnya, moralitas lahir dari kesadaran batin yang murni. Ia mendorong mahasiswa agar senantiasa peka terhadap bisikan nurani dalam setiap tindakan. “Jangan pernah melukai hati nurani kalian. Tuhan sudah memberikan kita kompas moral itu. Tugas kita menjaga dan menggunakannya dalam setiap langkah,” tegasnya.
Veronica juga menekankan pentingnya memberi asupan positif bagi diri sendiri. Dalam era media sosial yang penuh distraksi dan arus informasi yang tidak selalu benar, ia mengingatkan para peserta agar selektif dalam memilih lingkungan sosial dan konsumsi digital.
“Kita harus feeding diri kita dengan hal-hal yang membangun. Berada di lingkungan yang positif, kelilingi diri dengan orang-orang yang mendukung dan sepemikiran. Gunakan media sosial untuk melihat konten yang berguna, bukan yang melemahkan,” sarannya.
Ia pun mengutip pesan sederhana dari ibunya, yang sejak kecil menanamkan pentingnya berteman dengan orang-orang yang punya semangat dan nilai positif. “Mama saya dulu selalu bilang, kamu harus duduknya bareng anak-anak juara. Awalnya saya tak paham, tapi ternyata benar. Lingkungan itu memengaruhi daya juang dan moral kita,” kenangnya.
Veronica juga mengajak para Tanoto Scholars untuk memiliki purpose, tujuan hidup yang bermakna dan mendorong mereka untuk tidak hanya berhenti pada pencapaian akademik. “Kalian sudah melalui proses seleksi yang berat, artinya sudah punya nilai tambah. Tapi itu baru awal. Yang menentukan ke mana kalian akan berdampak adalah tujuan hidup kalian dan bagaimana tujuan itu diterjemahkan dalam aksi nyata,” katanya.
Dengan gaya yang hangat, Veronica bahkan berbagi kisah pribadinya saat muda yang penuh kebimbangan, namun berhasil dia atasi berkat tekad dan kepercayaan diri. “Dulu saya ikut ujian masuk berbagai jurusan. Arsitek, dokter, teknik industri, bukan karena saya yakin itu panggilan hidup saya, tapi karena saya tahu, asal saya punya kemauan dan semangat belajar, saya pasti bisa,” bebernya.
Menanggapi fenomena generasi muda yang kerap disebut “generasi stroberi” karena dianggap rapuh secara emosional, Veronica mengingatkan pentingnya membangun resiliensi. “Jangan biarkan emosi mengalahkan akal sehat. Bangun komunitas yang sehat. Dekatkan diri pada orang-orang yang membuat kalian tumbuh,” tuturnya.
Ia bahkan membagikan pengalaman pribadi saat mengalami masa sulit, yang berhasil ia lewati bukan hanya karena motivasi pribadi, melainkan karena dukungan komunitas dan keluarga. “Saya bisa bertahan karena tahu hidup saya bukan cuma untuk saya sendiri, tapi juga untuk anak-anak dan orang tua saya,” ujarnya.
TSG 2025 sendiri merupakan ajang tahunan yang mempertemukan para penerima beasiswa Teladan dari berbagai perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation. Tahun ini, pendaftaran Program Teladan dibuka kembali mulai 1 Juli hingga 7 September 2025.
Beasiswa ini tidak hanya memberikan bantuan dana pendidikan, tetapi juga pelatihan kepemimpinan, pengembangan soft skills, hingga peluang mengikuti program magang, konferensi, dan pelatihan di dalam dan luar negeri.
Mahasiswa penerima KIP-K juga kini bisa mendaftar selama mereka berada di semester pertama di kampus mitra. Perguruan tinggi mitra TELADAN meliputi Universitas Indonesia, IPB University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Bandung, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mulawarman, dan Universitas Riau.
Mengakhiri sesi, Veronica menyampaikan harapan besar agar para Tanoto Scholars tidak hanya menjadi unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan.
Sesi ini menjadi pengingat bahwa pemimpin masa depan tidak cukup hanya dengan kecerdasan, tapi juga perlu keberanian untuk berempati, keteguhan hati, dan kesediaan untuk terus tumbuh dalam lingkungan yang baik. Sebuah pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin menjadi champion of good.
“Selama kita tidak menyerah, selama kita terus mencari solusi, saya yakin hidup tidak akan pernah menjatuhkan kita terlalu dalam. Karena kita tahu siapa diri kita, dan kita punya hati nurani untuk memandu kita,” tutupnya dengan penuh keyakinan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo