Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ini Alasan BI Kaltim Keluarkan Modul Ajar, Salah Satunya Banyak Guru Terjerat Pinjol

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 15 Agustus 2025 | 16:11 WIB
PEDOMAN: Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto menunjukkan modul ajar kepada para jurnalis.
PEDOMAN: Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto menunjukkan modul ajar kepada para jurnalis.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim serta Balai Guru dan Tenaga Kependidikan meluncurkan modul ajar Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, Kebanksentralan dan Digitalisasi Sistem Pembayaran. Sasaran utamanya adalah siswa SMA/SMK di seluruh Kaltim.

Kepala Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, mengatakan langkah itu penting karena tenaga pendidik memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kebiasaan siswa sejak dini. “QRIS di Kaltim telah digunakan 57 juta pengguna. Kenapa perlu menyentuh tenaga pendidik? Karena perannya luar biasa,” ujarnya.

Budi memaparkan tiga alasan utama pentingnya literasi keuangan. Pertama, perkembangan teknologi dan sistem pembayaran yang sangat pesat. “Sepuluh tahun ke depan akan lebih berkembang lagi,” katanya.

Kedua, generasi muda perlu memahami bahwa uang bukan sekadar nominal transaksi, melainkan bagian dari kedaulatan negara. Ketiga, literasi keuangan membantu siswa mengenali risiko transaksi nontunai sehingga membentuk generasi cerdas finansial.

Program itu juga untuk menjembatani kesenjangan literasi di era digital. Menurut Budi, inovasi tidak akan berhenti, sehingga buku ajar tersebut diharapkan mampu mempercepat pemahaman siswa sekaligus memudahkan implementasi di lapangan.

“Modul ini disusun bersama para guru, disesuaikan dengan kemampuan siswa, baik SMA maupun SMK,” terangnya.

Tahap awal, modul itu akan diajarkan di seluruh SMA dan SMK di bawah naungan Pemprov Kaltim, sesuai surat edaran Dinas Pendidikan. Budi menyebut ke depan materi itu berpotensi diperluas hingga ke jenjang SMP.

"Meskipun saat ini kami sudah melakukan literasi keuangan dari tingkat PAUD, TK, SD, hingga masyarakat umum,” tambahnya.

Penyusunan modul juga didorong oleh fenomena yang cukup memprihatinkan. Data OJK mencatat literasi keuangan di Kaltim baru 57,14 persen. Bahkan, menurut Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Surasa, ada guru yang terjerat pinjaman online (pinjol) akibat rendahnya pemahaman finansial.

“Ini fakta yang harus kita hadapi bersama. Guru yang paham literasi keuangan akan lebih siap membimbing siswanya,” ujar Surasa.

Budi mengingatkan, generasi muda rentan terhadap risiko negatif digitalisasi, seperti judi online, pinjaman ilegal, hingga penipuan transaksi. Data PPATK menyebut kelompok usia 24 tahun ke bawah termasuk yang paling banyak terpapar risiko tersebut.

"Karena itu, literasi keuangan di sekolah menjadi sangat penting untuk memitigasi risiko tersebut,” tegasnya.

Dengan kolaborasi BI, Dinas Pendidikan, dan para guru, diharapkan modul ajar itu bukan hanya materi tambahan, melainkan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mampu membentuk generasi muda cerdas finansial dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Cinta Bangga Paham Rupiah #pinjol #transaksi #guru #finansial #sma #Modul Ajar #qris #BI Kaltim