KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Proyek strategis nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Blok Masela yang dikelola INPEX Corporation kini memasuki tahap Front End Engineering Design (FEED). Proses ini ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan atau pada akhir 2025, sebelum berlanjut ke tahap Final Investment Decision (FID) awal 2026.
Proyek Masela yang menelan investasi besar mencapai USD 20,94 miliar atau sekitar Rp 341 triliun ini diproyeksikan menjadi salah satu penopang energi nasional di masa depan. Pada fase konstruksi, proyek ini diperkirakan menyerap 12.611 tenaga kerja, sementara fase operasi akan melibatkan sekitar 850 tenaga kerja secara berkelanjutan.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyebut, tahap FEED menjadi momen penting untuk memastikan desain fasilitas sesuai kebutuhan produksi jangka panjang.
“Secara jujur proyek ini memang sempat mengalami penundaan, tapi dalam bahasa Jepang ada pepatah Nanakorobi Yaoki, tujuh kali jatuh delapan kali bangkit. Jadi kita terus berusaha agar proyek ini bisa segera berjalan,” tuturnya, Jumat (29/8).
Tahap FEED sendiri mencakup pembangunan fasilitas LNG darat (Onshore LNG/OLNG), sistem lepas pantai seperti FPSO, SURF, dan jalur pipa ekspor gas, hingga infrastruktur produksi pendukung. Jika rampung dan beroperasi penuh, lapangan Abadi memiliki cadangan gas besar mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF).
Produksinya diperkirakan mampu mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), gas pipa sebesar 150 juta meter kubik per hari (mmcfd), serta kondensat sekitar 35 ribu barel per hari.
Djoko menargetkan tahap FEED tidak memakan waktu lama. “Kita targetkan rampung pada tahun ini juga, kurang lebih tiga bulan. Setelah itu, proses akan masuk ke fase FID pada awal 2026,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen SKK Migas untuk mempercepat perizinan, terutama jika kontraktor memaksimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta mempekerjakan sumber daya manusia lokal.
“Selama menggunakan TKDN yang cukup besar, baik tenaga kerja maupun barang dalam negeri, SKK Migas tidak akan berlama-lama, langsung menyetujuinya,” tegas Djoko.
Dalam pelaksanaan FEED, SKK Migas juga menyiapkan sejumlah langkah paralel, termasuk proses tender dan penyelesaian perizinan. “Alhamdulillah, tim terpadu yang menangani AMDAL berjanji akan selesai pada bulan September. Dengan asumsi semua perizinan selesai sesuai arahan Menteri, proses tender bisa berjalan paralel,” jelasnya.
Proyek Abadi Masela diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memberikan multiplier effect bagi perekonomian, terutama melalui serapan tenaga kerja, peningkatan TKDN, serta kontribusi terhadap pembangunan wilayah timur Indonesia. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo