Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BRI Siap Permudah Akses Modal dengan KUR Pertanian

Nasya Rahaya • Sabtu, 20 September 2025 | 15:16 WIB
SKEMA KHUSUS: BRI membuka jalan bagi petani muda yang baru merintis usaha lewat pembiayaan KUR mikro hingga Rp100 juta tidak memerlukan jaminan apa pun.
SKEMA KHUSUS: BRI membuka jalan bagi petani muda yang baru merintis usaha lewat pembiayaan KUR mikro hingga Rp100 juta tidak memerlukan jaminan apa pun.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Samarinda terus memperluas akses pembiayaan bagi petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian.

Permintaan pembiayaan dari kalangan petani tercatat tinggi dan stabil, baik sebelum maupun setelah pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara nasional, PT BRI Tbk tercatat telah menyalurkan KUR sebesar Rp 83,38 triliun hingga akhir kuartal II 2025. Jumlah itu setara 47,93 persen dari total alokasi KUR tahun ini sebesar Rp 175 triliun.

Penyaluran dilakukan dengan tetap menjaga kualitas kredit, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang terjaga di level 2,48 persen.

Dari total tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu penyerap terbesar. “Untuk KUR mikro, baik sebelum maupun sesudah MBG, permintaan tetap tinggi,” kata Arif Firman, Manajer Bisnis Mikro BRI Kantor Cabang Samarinda Gajah Mada, kepada Kaltim Post.

Arif menerangkan, untuk KUR BRI terbagi dalam dua kategori yakni KUR mikro dengan plafon pinjaman hingga Rp 100 juta dan KUR ritel dengan plafon hingga Rp 500 juta.

Khusus untuk KUR mikro, BRI tidak mensyaratkan agunan. Syarat utama bagi calon debitur adalah memiliki usaha yang sudah berjalan minimal enam bulan dan belum pernah menerima pinjaman produktif dari lembaga keuangan lain.

KUR mikro ini juga dapat diakses bagi petani yang hanya menggarap lahan sewaan. Dia menyebut selama aktivitas usaha pertanian mulai dari bibit, pupuk hingga tenaga kerja ditanggung sendiri, maka mereka tetap berhak mengakses pembiayaan.

“Kalau petani menyewa sawah, tapi semua biaya produksi dari dirinya, maka pinjaman KUR bisa diberikan,” terang Arif.

Skema ini diharapkan membuka jalan bagi petani muda yang baru merintis usaha. Terlebih, pembiayaan KUR mikro hingga Rp100 juta tidak memerlukan jaminan apa pun.

Meski demikian, tidak semua pengajuan bisa langsung diterima. Kendala paling sering ditemukan yakni catatan kredit nasabah di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Jika calon debitur memiliki tunggakan di pembiayaan lain, seperti kredit kendaraan atau pinjaman konsumtif, maka pengajuan KUR berpotensi ditolak sistem.

“Yang perlu diperhatikan masyarakat adalah menjaga angsuran pinjaman apa pun. Kalau sudah wanprestasi akan sulit mengakses kembali fasilitas pembiayaan,” kata Arif.

Untuk sektor pertanian yang sangat bergantung pada musim tanam, BRI menerapkan skema pembayaran menyesuaikan masa panen. Jika siklus panen tiga bulan, maka pembayaran angsuran dilakukan setelah tiga bulan. Demikian pula dengan siklus enam bulan. “Angsuran dilakukan setelah panen, bukan setiap bulan,” ujar Arif.

Berdasarkan itu, pihaknya berkewajiban memantau penggunaan dana pinjaman secara kontinu. Hal ini untuk memastikan pembiayaan benar-benar digunakan untuk kegiatan usaha pertanian, bukan dialihkan ke kebutuhan konsumtif.

Kerja sama dengan pemerintah daerah dan Dinas Pertanian juga menjadi strategi penting. BRI telah lama menyalurkan Kartu Tani, yang berfungsi sebagai identitas petani sekaligus sarana untuk memperoleh pupuk subsidi. Penyaluran pupuk dilakukan melalui agen BRILink yang berperan sebagai kios pupuk lengkap (KPL).

Tak hanya itu, sosialisasi ke desa dan kelurahan rutin digelar. Kini, setiap desa atau kelurahan sudah memiliki perwakilan BRI yang ditugaskan sebagai PIC (person in charge). “Dengan dukungan penyuluh pertanian dari pemerintah, akses petani terhadap pembiayaan semakin terbuka,” kata Arif.

Untuk meningkatkan penyaluran KUR tahun ini, BRI Samarinda menyiapkan tiga langkah. Pertama, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui edukasi dan literasi keuangan bagi petani.

Kedua, menggandeng koperasi desa maupun BUMDes untuk menjamin pemasaran hasil panen. “Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran hasil tani tidak terserap pasar,” ujar Arif.

Ketiga, memastikan BRI hadir di tingkat desa dan kelurahan untuk mendampingi petani sejak awal proses pengajuan hingga pengembalian pinjaman.

Arif menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun sektor pertanian Samarinda dan Kalimantan Timur. Menurutnya, bertani tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional, melainkan bisa menjadi usaha yang modern dan berdaya saing. “Tidak usah gengsi untuk jadi petani. Kesuksesan bisa datang dari mana saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, BRI siap mendukung pembiayaan sepanjang syarat dan ketentuan terpenuhi. “Pesan saya, jangan pernah meminjamkan KTP kepada orang lain untuk akses pembiayaan, baik ke bank maupun lembaga lain. Kalau sampai bermasalah, justru akan merugikan diri sendiri,” kata Arif. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#petani #modal #kur #pertanian #bri #kredit usaha rakyat #tanpa agunan