KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah dinamika perdagangan global dan fluktuasi sektor energi pada Agustus 2025, Balikpapan mencatatkan surplus neraca dagang sebesar USD 245,70 juta. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan menunjukkan, capaian positif ini terutama ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang masih perkasa.
“Sektor nonmigas mencatat surplus sebesar USD 419,21 juta, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD 173,51 juta,” jelas Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto, Selasa (14/10).
Ia menambahkan, capaian tersebut memperpanjang tren positif kinerja perdagangan Balikpapan sepanjang tahun ini. Secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2025, Balikpapan membukukan surplus besar mencapai USD 1.066,28 juta.
“Selama delapan bulan pertama 2025, sektor migas masih defisit USD 1.631,48 juta. Namun sektor nonmigas berhasil menutupinya dengan surplus hingga USD 2.697,76 juta,” paparnya.
Dari sisi impor, nilai impor Balikpapan pada Agustus 2025 tercatat sebesar USD 257,10 juta, turun 24,16 persen dibandingkan Juli 2025. Penurunan ini disebabkan turunnya impor nonmigas dari USD 67,60 juta menjadi USD 53,05 juta serta migas dari USD 271,41 juta menjadi USD 204,06 juta. Jika dibandingkan dengan Agustus 2024, impor secara tahunan juga menurun 32,45 persen.
“Penurunan impor migas terutama dari komoditas gas dan hasil minyak, menjadi faktor utama turunnya nilai impor bulan ini. Hal ini menunjukkan perlambatan aktivitas impor energi,” ujar Marinda.
Ia menambahkan bahwa impor gas turun 45,95 persen, hasil minyak turun 46,25 persen, dan minyak mentah turun 39,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi negara asal barang, Nigeria tercatat sebagai mitra dagang terbesar untuk impor Balikpapan pada Agustus 2025 dengan nilai 67,31 juta dolar.
Disusul oleh Singapura sebesar USD 43,46 juta dan Amerika Serikat USD 14,14 juta. Sementara itu, impor dari Angola tercatat tidak ada setelah pada Juli mencapai USD 122,06 juta. Secara kumulatif Januari–Agustus 2025, Nigeria menjadi negara pengimpor utama dengan nilai USD 626,46 juta atau 22,84 persen dari total impor Balikpapan.
Posisi berikutnya ditempati Singapura dengan USD 513,61 juta (18,72 persen) dan Angola sebesar USD 443,22 juta (16,16 persen). “Surplus neraca perdagangan kali ini menegaskan bahwa sektor nonmigas masih menjadi andalan utama ekonomi Balikpapan. Namun, kami tetap memantau penurunan impor migas karena dapat mempengaruhi aktivitas industri di sektor energi,” tutup Marinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo