Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pastikan Emas yang Dibeli di BSI Ada Fisiknya, Bisa Dicetak Kapan Saja

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 12 November 2025 | 19:20 WIB
DISIMPAN: Funding & Transaction Business Deputy RO IX Kalimantan Nugroho Agung Dewanto memastikane mas yang dibeli ada fisiknya.
DISIMPAN: Funding & Transaction Business Deputy RO IX Kalimantan Nugroho Agung Dewanto memastikane mas yang dibeli ada fisiknya.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Seluruh emas yang dibeli melalui aplikasi Byond dipastikan benar-benar ada secara fisik dan tersimpan dalam sistem wadiah atau titipan.

Nasabah bisa mencetaknya kapan saja di cabang BSI yang ditunjuk, dengan minimal pencetakan 5 gram. Saat ini terdapat 18 cabang di seluruh Indonesia yang melayani pencetakan emas, termasuk Kantor Cabang Balikpapan Sudirman.

BSI, lanjut Agung, dengan konsep syariahnya, ingin menjadi pelopor gerakan investasi logam mulia yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai keberkahan.

“Kami bukan sekadar menjual emas. Kami membangun kesadaran finansial masyarakat agar hidup lebih stabil, terencana, dan sesuai prinsip syariah,” tutur Funding & Transaction Business Deputy RO IX Kalimantan Nugroho Agung Dewanto.

Ya, salah satu keunggulan utama BSI adalah kepatuhan terhadap prinsip syariah. Agung menjelaskan bahwa seluruh sistem transaksi emas digital BSI telah disetujui Dewan Syariah Nasional-MUI.

“Emas yang dibeli nasabah bukan angka kosong di layar aplikasi. Barangnya ada, bisa dicetak, dan disimpan dengan aman. Inilah yang membedakan kami dari platform emas digital lainnya,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa BSI tidak mendorong masyarakat untuk berspekulasi terhadap harga emas. “Prinsip syariah mengajarkan agar investasi dilakukan dengan niat menabung dan menjaga nilai, bukan untuk mencari keuntungan cepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Agung juga berujar potensi besar Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai wilayah dengan tingkat kepemilikan emas dan literasi investasi tertinggi di Kalimantan. Hal ini membuat BSI menempatkan Kaltim sebagai salah satu daerah fokus dalam pengembangan produk Bullion Bank dan edukasi investasi syariah.

“Literasi di Kaltim itu tinggi, market juga tinggi. Masyarakatnya punya kesadaran yang kuat terhadap pentingnya investasi, dan cenderung memilih logam mulia dibanding instrumen spekulatif,” ungkapnya.

BSI menilai perkembangan ekonomi Kaltim yang pesat, terutama menjelang pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN), akan meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap instrumen lindung nilai yang stabil.

Karena itu, BSI melalui kunjungan ke media, maupun menjalin komunikasi dengan komunitas bisnis, maupun lembaga pendidikan untuk meningkatkan literasi keuangan di wilayah ini.

Terlebih lagi, kini, harga emas yang kini berada di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 2,6 juta per gram menjadi faktor pendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi logam mulia. Dalam dua bulan terakhir, BSI mencatat lonjakan signifikan pada transaksi emas melalui aplikasi Byond.

Selain itu, Agung mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang sering terjadi ketika harga emas naik. “Banyak orang membeli saat harga tinggi karena takut ketinggalan. Padahal investasi emas itu bukan untuk jangka pendek. Kalau menabung bertahap, justru bisa menyeimbangkan fluktuasi harga,” katanya.

Ia menambahkan, emas juga bisa menjadi aset likuid untuk kebutuhan darurat tanpa harus dijual. “Kalau butuh dana cepat, sebaiknya digadaikan dulu, bukan dijual. Nilainya tetap terjaga dan bisa ditebus kembali saat kondisi keuangan membaik,” jelasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#investasi #BSI #BYOND #emas #fisik