Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pasokan Terbatas, Pasar Properti Jakarta Masuk Fase Tumbuh Stabil

Thomas Dwi Priyandoko • Rabu, 19 November 2025 | 07:59 WIB
CBRE Indonesia dalam paparannya tentang pasar properti di Jakarta.
CBRE Indonesia dalam paparannya tentang pasar properti di Jakarta.

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Pasar properti Ibu Kota Jakarta diperkirakan bergerak ke fase pertumbuhan stabil. Fondasi ekonomi yang kokoh dan perubahan kebutuhan penyewa menjadi penopang utama.

Dalam Market Outlook terbaru, CBRE Indonesia menilai terbatasnya suplai baru di segmen premium akan menjaga kekuatan okupansi dan mendorong stabilitas sewa. Sementara itu, geliat ritel berbasis pengalaman serta logistik terus muncul sebagai motor pertumbuhan baru.

Dalam pemaparan di media briefing perdana, Managing Director Advisory Services Indonesia Angela Wibawa menegaskan pasar properti Jakarta tengah memasuki masa pertumbuhan berkelanjutan.

Minimnya gedung baru di kelas utama diprediksi menjaga ketahanan hunian dan memicu pergerakan sewa. Angela menyebut CBRE akan memperluas layanan di Indonesia untuk membantu klien menavigasi dinamika pasar yang makin berubah cepat.

CBRE yang baru meluncurkan layanan Advisory di Indonesia pada Agustus lalu menyatakan langkah tersebut sejalan dengan peluang ekonomi dan arah perkembangan pasar yang makin matang.

Membuka presentasinya, Anton Sitorus, Head of Research & Consultancy, mengatakan bahwa Indonesia telah mempertahankan laju pertumbuhan yang mengesankan, dengan rata-rata sekitar 5% per tahun dalam lima tahun terakhir.

Momentum ini diperkirakan berlanjut hingga 2027. Target pemerintah mencapai 6–8% pada 2029 menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang. Stabilitas ini, kata Anton, menjadi pijakan penting bagi keputusan ekspansi multinasional hingga investasi domestik.

Transformasi juga terlihat di sektor perkantoran. Judy Sinurat, Co-Head of Office Services, menyebut ukuran gedung bukan lagi magnet utama. Kini perusahaan mengejar kualitas, efisiensi energi, dan fleksibilitas. Gedung berlabel hijau dan fasilitas modern semakin dicari karena dinilai mencerminkan citra perusahaan sekaligus mendukung kenyamanan karyawan.

Albert Dwiyanto, Co-Head of Office Services, memaparkan bahwa CBD Jakarta memiliki stok 7,1 juta meter persegi dengan okupansi 75 persen dan rata-rata sewa di kisaran Rp170 ribu per meter persegi per bulan. Keterbatasan suplai hanya 188 ribu meter persegi tambahan hingga 2028, mendorong tren kenaikan sewa dan memperkuat pergerakan “flight-to-quality”.

Ivana Susilo, Head of Industrial & Logistics Services, menambahkan bahwa permintaan lahan industri dan fasilitas logistik modern terus meningkat seiring pertumbuhan e-commerce dan posisi Indonesia sebagai pemain utama manufaktur kendaraan listrik. Okupansi kawasan industri dan pusat logistik utama tetap tinggi, membuat harga lahan dan tarif sewa bertahan kuat di tengah suplai yang tidak mampu mengejar permintaan.

Perkembangan serupa juga terjadi pada sektor ritel. Anton menjelaskan bahwa mal-mal di Jakarta kini berubah menjadi destinasi gaya hidup dengan retailtainment sebagai penggerak utamanya. Ruang belanja dipadukan dengan konsep budaya, hiburan, dan aktivitas sosial. Mal papan atas terus memimpin performa, sementara mal kelas menengah mulai memoles diri lewat aktivasi dan acara yang dekat dengan tren media sosial.

Angela menutup paparan dengan menyoroti pesatnya transformasi digital dan adopsi cloud di Asia Tenggara. Indonesia kini menjadi pasar kunci pusat data, menempati posisi kedua di kawasan untuk kapasitas pipa. Dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 40 persen, kebutuhan lahan industri dan infrastruktur listrik semakin strategis dalam menopang ekonomi digital.(*)

 

 

Editor : Thomas Priyandoko
#jakarta #CBRE Indonesia #bisnis #properti