KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Peta kesejahteraan petani secara nasional kembali bergerak pada Oktober 2025. Dari 38 provinsi, lebih dari separuhnya mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP), dengan Kalimantan Timur menjadi salah satu motor penguatannya.
Kepala Baan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, pada Oktober 2025 dari 38 provinsi yang dihitung NTP-nya, terdapat 20 provinsi yang mengalami kenaikan NTP dan 18 provinsi mengalami penurunan.
Kenaikan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 2,25 persen, sementara penurunan terdalam dialami Sulawesi Tengah sebesar 4,97 persen. Untuk regional Kalimantan, Kaltim menjadi penyumbang kenaikan terbesar.
“Kenaikan NTP tertinggi dialami Kaltim sebesar 1,70 persen,” ujar Yusniar. Tiga provinsi lainnya juga menguat, Kalbar 1,64 persen, Kaltara 0,61 persen, dan Kalteng 0,47 persen. Hanya Kalsel yang melemah tipis 0,05 persen. Secara nasional, NTP turun 0,02 persen.
Penguatan juga terjadi pada indikator Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP). Yusniar memaparkan, jika NTUP Oktober 2025 sebesar 154,67 atau naik 1,45 persen dibanding NTUP pada September 2025 yang tercatat sebesar 152,45.
"Pendorong utamanya adalah Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 1,76 persen, sementara indeks BPPBM hanya naik 0,30 persen," lanjutnya.
Jika dirinci menurut subsektor, dua kelompok usaha tani mencatat penguatan NTUP, yakni perkebunan rakyat yang naik 3,29 persen dan perikanan naik 0,51 persen. Sebaliknya, tiga subsektor melemah, yakni tanaman pangan turun 1,18 persen, hortikultura turun 2,98 persen, dan peternakan turun 0,75 persen.
Yusniar menegaskan seluruh subsektor tetap berada pada rasio NTUP di atas 100. Hal itu menunjukkan bahwa dalam memasarkan produk hasil pertaniannya harga yang petani terima mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan harga yang mereka bayar untuk membeli keperluan proses produksi (BPPBM) tahun dasar 2018. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo