Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Okupansi Hotel di Balikpapan Tahun Ini Diproyeksi Berada di Bawah 50 Persen, Ini Alasannya

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 25 November 2025 | 18:32 WIB
TEKANAN: Tingkat hunian kamar hotel berbintang di Balikapapn diproyeksi berada di level 50 persen tahun ini.
TEKANAN: Tingkat hunian kamar hotel berbintang di Balikapapn diproyeksi berada di level 50 persen tahun ini.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri perhotelan Balikpapan menghadapi periode berat tahun ini. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan memperkirakan tingkat hunian hotel sepanjang 2025 berada di bawah 50 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 2024 lalu yang menyentuh 80 persen.

Ketua PHRI Balikpapan Soegianto menegaskan, kondisi ini harus diwaspadai oleh seluruh pelaku industri. Apalagi jika berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah masih berlanjut, tahun depan diyakini bakal lebih berat.

“Tahun ini kami proyeksi okupansi hotel paling tinggi sekitar 50 persen. Saat ini pun rata-rata hotel masih di angka 40-an persen dan itu belum menunjukkan adanya perbaikan signifikan,” ungkapnya, Selasa (25/11).

Menurutnya, penurunan aktivitas Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi penyebab utama anjloknya okupansi hotel. Pada 2024, pembangunan IKN berjalan masif dan menyerap banyak kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) serta kunjungan pekerja proyek. Namun, memasuki akhir 2024 dan memasuki 2025, ritme pembangunan disebut turun drastis.

“IKN tidak lagi segencar tahun 2024. Bahkan di 2025 aktivitasnya hampir tidak ada. Itu sangat terasa bagi kami,” jelasnya.

Selain IKN, pemangkasan anggaran pemerintah pusat juga turut memperburuk situasi. Banyak kementerian dan lembaga mengurangi kegiatan yang biasanya dilaksanakan di hotel. Perusahaan BUMN yang dulu memberikan kontribusi besar juga mengalami penurunan agenda, sementara perusahaan non-BUMN hanya mengisi kurang dari 20 persen okupansi keseluruhan.

Penurunan aktivitas proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang sebelumnya menjadi penopang industri perhotelan Balikpapan ikut mempersempit peluang peningkatan akupansi. Itulah mengapa, Soegianto menilai kombinasi tiga faktor tersebut menciptakan kondisi yang “tidak sesuai harapan”.

Ia menyebut, meskipun pada Oktober 2025 mencatat akupansi sekitar 60 persen, November diproyeksi turun menjadi sekitar 50 persen dan tren pelemahan diperkirakan terus berlanjut hingga Desember.  “Kami berharap kegiatan IKN bisa tumbuh lagi dan lebih banyak agenda pemerintah pusat digelar di Balikpapan. Itu akan sangat membantu pemulihan akupansi hotel,” katanya.

Seiring tekanan yang datang dari berbagai arah, pelaku industri perhotelan disebut perlu beradaptasi dan meningkatkan daya tarik layanan agar mampu bertahan di tengah lesunya permintaan. "Mau tidak mau kita harus berusaha mencari jalan, peluang dan inovasi lainnya, agar tidak semakin tergerus," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#tingkat hunian hotel #mice #phri #hotel #okupansi #balikpapan