KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Ekonomi Kalimantan kembali tumbuh di bawah nasional pada Triwulan III 2025. OJK menyebut penurunan tajam di sektor pertambangan menjadi penyebab utama, mengingat ketergantungan kawasan terhadap batu bara masih sangat besar.
Dalam paparannya, Kepala OJK Kaltim-Kaltara Parjiman menyebut ekonomi Kalimantan hanya tumbuh 4,70 persen, lebih rendah dari nasional 5,04 persen. “Kaltim itu ketergantungannya sama tambang terlalu dominan,” ujarnya. Dia menambahkan, harga batu bara tidak dalam kondisi baik dalam beberapa bulan terakhir.
Kontribusi terbesar ekonomi Kalimantan dan Kaltim, kata dia, masih berasal dari pertambangan dan penggalian. Namun justru sektor itu yang mengalami penurunan paling tajam. “Kenaikan di sektor pertambangan itu negatif. Untuk Kalimantan -7,05. Sedangkan di Kaltim negatifnya lebih besar -10,60,” jelas pria yang dipanggil Jimmy itu.
Dari pembagian wilayah PDB nasional, Jawa tetap menjadi penopang utama dengan porsi 56,68 persen. Disusul Sumatera 22,42 persen, Kalimantan 8,02 persen, Sulawesi 7,36 persen, Bali-Nusra 2,83 persen, serta Maluku-Papua yang turun menjadi 0,69 persen.
Pertumbuhan antarprovinsi di Kalimantan juga menunjukkan kontras. Kalimantan Tengah mencatat pertumbuhan tertinggi 5,36 persen, disusul Kalimantan Barat 5,31 persen dan Kalimantan Selatan 5,19 persen. Sementara Kaltim hanya tumbuh 4,26 persen dan Kalimantan Utara 4,61 persen, keduanya di bawah nasional.
Jimmy menyebut kondisi itu berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya. “Sebagaimana triwulan sebelumnya, pertumbuhan Kaltim dan Kaltara ini juga di bawah nasional. Sebelumnya kan selalu di atas,” ujarnya.
Menurut dia, tekanan harga komoditas menjadi faktor utama. Sektor pertambangan yang terlalu dominan membuat ekonomi daerah sangat sensitif terhadap perubahan harga global.
Diaa menilai diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa penguatan sektor non-tambang, fluktuasi global akan terus memberi tekanan pada pertumbuhan ekonomi Kalimantan.
Jimmy berharap pemerintah daerah mempercepat transformasi ekonomi agar stabilitas pertumbuhan kembali terjaga pada kuartal-kuartal berikutnya. (*)
Editor : Ismet Rifani