KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga kebutuhan rumah tangga di Kalimantan Timur turut membentuk dinamika ekonomi menjelang akhir tahun. Pergerakannya tidak melonjak tajam, namun cukup kentara bagi masyarakat.
Memasuki November 2025, kondisi tersebut membawa perubahan pada laju inflasi daerah. BPS Kaltim mencatat bahwa inflasi tahunan kini menyentuh 2,28 persen. Angkanya meningkat dibanding Oktober yang berada di posisi 1,94 persen year-on-year.
Baca Juga: Bulog Kaltim–Kaltara sudah menyerap 9.500 ton beras sepanjang 2025, lebih tinggi dari tahun lalu.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa angka tersebut berasal dari hasil pemantauan di empat kabupaten/kota.
“Terjadi kenaikan IHK dari 106,60 pada November 2024 menjadi 109,03 pada November 2025,” ujarnya.
Pada periode yang sama, inflasi month-to-month tercatat 0,41 persen, sementara year-to-date menyentuh 1,96 persen.
Pendorong terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,43 persen. Kelompok pendidikan juga bergerak naik 2,80 persen.
Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan paling signifikan, mencapai 12,45 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 1,65 persen.
Sejumlah kelompok pengeluaran lain turut mengalami peningkatan seperti kesehatan 1,45 persen, rekreasi-olahraga-budaya 1,32 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02 persen.
Namun beberapa kelompok justru mengalami penurunan indeks. Di antaranya pakaian dan alas kaki yang turun 1,28 persen, perlengkapan rumah tangga 1,12 persen, transportasi 0,58 persen, serta informasi-komunikasi-jasa keuangan 0,32 persen.
Dari sisi andil inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,31 persen.
Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,82 persen, restoran 0,18 persen, pendidikan 0,12 persen, kesehatan 0,04 persen, serta rekreasi-olahraga-budaya 0,02 persen.
Sebaliknya, kelompok transportasi mampu menahan inflasi dengan kontribusi minus 0,08 persen. Pakaian dan alas kaki menyumbang minus 0,06 persen, perlengkapan rumah tangga minus 0,05 persen, dan informasi-komunikasi-jasa keuangan minus 0,02 persen.
Penurunan harga di kelompok ini memberi ruang agar inflasi tidak bergerak lebih tinggi.
Untuk komoditas penyumbang inflasi, sebagian besar masih merupakan barang konsumsi masyarakat.
Mulai dari emas perhiasan, beras, ikan layang, rokok SKM, kopi bubuk, minyak goreng, udang basah, pasta gigi, air kemasan, ikan tongkol, biaya pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi, kangkung, kelapa, wortel, ikan bandeng, rokok SKT, hingga nasi lauk.
Sementara komoditas penahan inflasi mencakup angkutan udara, detergen bubuk, berbagai pakaian pria dan wanita, telepon seluler, pelembut pakaian, pembersih lantai, serta pelicin cucian.
Penurunan harga barang-barang ini membantu meredam tekanan IHK sepanjang November. (*)
Editor : Ery Supriyadi