KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Balikpapan mencatatkan kenaikan inflasi pada November 2025 sebesar 2,31 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,19 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan menyebut lonjakan inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memberikan andil inflasi hingga 1,58 persen.
Tren peningkatan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional menjadi salah satu pemicu utama. Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menurutkan, tekanan inflasi November ini sebagian besar disebabkan oleh naiknya harga komoditas pangan, khususnya cabai, sayuran, dan beberapa jenis ikan segar.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 5,16 persen,” sebutnya.
Selain kelompok pangan, BPS mencatat kelompok kesehatan naik 1,77 persen, rekreasi dan budaya naik 2,65 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat hingga 12,10 persen. Kenaikan ini turut memperkuat tekanan inflasi pada akhir tahun.
Marinda menjelaskan, pola konsumsi masyarakat biasanya meningkat di bulan November–Desember, sehingga mendorong naiknya harga di beberapa kelompok pengeluaran. “Setiap akhir tahun, permintaan barang dan jasa meningkat. Jika pasokan tidak tumbuh secepat permintaan, harga otomatis terkerek naik,” katanya.
Namun di sisi lain, beberapa kelompok justru mengalami deflasi, seperti pakaian dan alas kaki yang turun 3,20 persen, serta perlengkapan rumah tangga yang turun 1,96 persen. Kelompok transportasi juga mencatat penurunan sebesar 0,02 persen.
BPS juga menyoroti sejumlah komoditas yang berkontribusi pada inflasi bulanan (month to month/mtm), mulai angkutan udara, emas perhiasan, kacang panjang, udang basah, hingga berbagai jenis sayuran. Sementara itu, komoditas yang memberi andil deflasi antara lain ayam ras, ikan layang, beras, minyak goreng, dan papaya.
“Dinamika harga di Balikpapan sangat dipengaruhi oleh distribusi antarwilayah karena daerah ini bukan penghasil pangan utama. Ketergantungan pada pasokan dari luar menjadikan harga cukup sensitif terhadap gangguan distribusi,” jelas Marinda.
Dengan inflasi yang bergerak naik, pemerintah daerah diimbau terus memperkuat mitigasi melalui operasi pasar, penguatan suplai, dan pemantauan harga harian agar stabilitas ekonomi tetap terjaga hingga akhir 2025.
BPS menegaskan pentingnya koordinasi antarinstansi untuk menjaga pasokan pangan di tengah meningkatnya konsumsi akhir tahun. “Stabilitas harga sangat bergantung pada kelancaran distribusi. Selama pasokan aman, gejolak dapat ditekan,” tambahnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo