Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Masa Sulit Pandemi, Jahe Habang Kartina Tembus Taiwan hingga Arab Saudi

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 6 Desember 2025 | 14:54 WIB
PELUANG: Dari sekadar konsumsi pribadi, berkembang jadi peluang usaha. Kini sudah memiliki payung hukum dan konsisten produksi.
PELUANG: Dari sekadar konsumsi pribadi, berkembang jadi peluang usaha. Kini sudah memiliki payung hukum dan konsisten produksi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pandemi 2020 menjadi titik balik Kartina Andajani dalam membangun usaha kuliner herbal. Saat seluruh keluarganya terpapar Covid-19, dia mencari cara agar jahe merah, rempah yang umum digunakan sebagai penghangat tubuh itu bisa dikonsumsi lebih mudah. Dia mulai mencoba mengolah jahe menjadi serbuk siap seduh.

Produk awal itu dia bagikan secara cuma-cuma kepada keluarga dan teman. Namun umpan balik justru membuatnya terkejut. Banyak yang merasakan manfaatnya dan menyarankan agar produk tersebut dijual.

Dukungan terbesar datang dari jejaring pertemanannya di Riau, tempat dia tinggal sebelum pandemi. “Teman-teman bilang, kenapa enggak dijual saja? Ini bermanfaat,” kata perempuan yang disapa Tina itu.

Sejak September 2020 Jahe Habang Nusantara mulai diproduksi lebih serius. Setahun kemudian dia memberanikan diri mengikuti lomba di Balikpapan. Meski berhasil masuk 20 besar, dia belum lolos karena kemasan dinilai belum memenuhi kriteria.

Kekalahan itu justru menjadi semangat baru. Dua tahun kemudian, dia mencoba lagi hingga akhirnya memenangkan juara pertama. “Saya coba lagi, saya coba lagi. Saya juara satu,” ungkapnya.

Dorongan untuk memperbaiki produk tidak berhenti di sana. Suatu ketika dia mendapat masukan dari kementerian saat mengikuti kurasi kemasan. Pesannya sederhana, fokus pada satu produk unggulan. Sebab, dia juga mengembangkan kriya lewat brand InggiTina. Dia pun memutuskan fokus pada kuliner lewat PT Mavica Food Indonesia. Kriya tetap jalan, namun utamanya adalah kuliner.

Kini Jahe Habang Nusantara memiliki tiga varian, original, kopi, dan bajakah. Varian bajakah menjadi favorit pembeli karena aromanya khas. Produk itu juga termasuk fast-moving di berbagai titik penjualan seperti Borneo Shop Bandara Sepinggan, Galeri UKM Provinsi, hingga beberapa toko oleh-oleh di Balikpapan. Kecepatan restock menjadi kunci agar produk tetap tersedia setiap saat.

Produk itu tidak hanya laris di pasar lokal. Banyak pembeli yang membawanya ke luar negeri untuk konsumsi pribadi atau oleh-oleh. Produknya bahkan sudah dibawa ke Jepang, Taiwan, hingga Arab Saudi. “Itu keluarga saya sendiri yang ke Jepang, terus yang ke Makkah. Ada juga kawan diaspora yang bawa ke Taiwan,” jelas Tina.

Di balik satu bungkus Jahe Habang terdapat proses produksi yang memakan waktu panjang. Dalam sehari, Tina bisa mengolah 20 kilogram jahe segar. Jahe diparut, diambil sarinya, kemudian diolah menjadi serbuk yang dikemas dalam lima sachet dalam satu kemasan.

Pekerjaan itu dia lakukan bersama keluarga agar produksi tetap stabil. “Proses produksinya memakan waktu, tapi khasiatnya sangat bermanfaat makanya saya pertahankan,” ujarnya.

Efisiensi produksi membuat Tina bisa cepat memenuhi permintaan besar. Beberapa pembeli bahkan memesan hingga 50 pieces sekaligus. Karena itu, stok selalu dia siapkan jauh hari.

“Jadi jauh-jauh hari saya sudah produksi. Kalau habis saya tinggal packing,” tuturnya. Strategi sederhana namun efektif itu membuat Jahe Habang tetap tersedia meski permintaan naik turun.

Dengan rekam jejak panjang dari masa pandemi hingga menembus pasar luar negeri, Tina menunjukkan bahwa produk lokal bisa bersaing bila kualitas, kemasan, dan ketekunan dijaga. Dia percaya UMKM harus berani memulai dari yang kecil, karena manfaat produklah yang pada akhirnya berbicara di pasar. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#usaha #Kartina Andajani #jahe merah #Jahe Habang #pandemi