Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Toko Oleh-Oleh Orangtua Terbakar Habis, Kartina Bangkit Lewat InggiTina dan Jahe Habang

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 6 Desember 2025 | 14:57 WIB
KENANGAN: Toko suvenir khas Kaltim milik orangtua Tina di Pasar Inpres Kebun Sayur sebelum terbakar habis pada era 90-an. Kini dia bangkit dengan brand InggiTina.
KENANGAN: Toko suvenir khas Kaltim milik orangtua Tina di Pasar Inpres Kebun Sayur sebelum terbakar habis pada era 90-an. Kini dia bangkit dengan brand InggiTina.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Ketertarikan Kartina Andajani terhadap dunia usaha tidak muncul tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMP, dia sudah membantu bisnis orang tuanya yang memiliki toko di Pasar Inpres Kebun Sayur.

Produk yang dijual beragam, mulai batik, suvenir Kalimantan, hingga manik-manik ronce buatan sendiri. “Usaha itu kan sudah turun-temurun,” ujarnya mengenang momen awal ikut menjaga toko.

Toko orang tuanya ramai karena sering disinggahi penumpang seperti dari KM Tidar ketika berlabuh. Aktivitas perdagangan berjalan lancar sejak usaha itu dimulai pada 1983. Namun nasib dapat berubah dalam semalam. Lokasi toko tersebut mengalami kebakaran besar.

“Toko kami habis semua, rasanya antara tahun 1993 apa 1995. Jadi enggak punya apa-apa lagi orang tua,” kata perempuan yang dipanggil Tina itu.

Setelah itu, keluarga Tina berusaha bangkit dengan cara seadanya. Mereka mengambil barang dari toko keluarga lain di Kebun Sayur, lalu menjualnya dari satu tempat ke tempat lain.

Situasi serba sulit tidak menghentikan langkah Tina untuk tetap berjualan. Bahkan ketika pindah ke Malang untuk kuliah, tetap membawa produk Kalimantan ke Jawa. “Saya masukkan ke toko-toko di sana,” tuturnya.

Lalu pada 1997 Tina pindah ke Jakarta dan menetap hingga 2010. Di sana dia merintis kembali usaha dengan meronce batu-batuan Kalimantan dan memasarkannya ke sekolah-sekolah. “Saya jual ke sekolah-sekolah SMA di Lab School, di Al-Azhar,” ucapnya.

Langkah itu membuat produk Kalimantan tetap dia angkat meski jauh dari kampung halaman. Di Jakarta pula dia sempat merintis bidang berbeda, toko onderdil mobil di Cibubur yang masih berjalan hingga sekarang.

Setelahnya, Tina kembali ke Balikpapan dan mulai membangun jejaring baru. Pada 2015 dia mendirikan Komunitas Cinta Balikpapan (KCB) sebagai wadah pelaku usaha lokal. Dari pengalaman membina UMKM itulah dia kemudian sadar bahwa seorang mentor harus memiliki produk sendiri.

“Kalau misalnya kita sebagai pembina UKM, kalau kita tidak punya produk kan hanya omong-omong saja,” katanya perempuan kelahiran 1971 itu.

Kesadaran itu membawanya kembali pada akar awalnya, kriya. Pada 2015, lahirlah brand InggiTina, yang memayungi berbagai produk kerajinan seperti kalung batu Kalimantan, gelang, tas, kain tenun, hingga suvenir khas.

Karyanya pun mulai banyak dipakai dalam berbagai acara diaspora Indonesia, termasuk dibawa ke Australia oleh kerabat dan dipamerkan di forum komunitas.

Jejaring yang dia bangun semakin kuat setelah pada 2019 turut membentuk komunitas UKM Kalimaya. Melalui komunitas itu, Tina lebih aktif menaikkan kelas pelaku usaha lokal dan memperluas pendampingan. Di juga mengikuti berbagai program kementerian. Jejak panjang itu ikut membentuk cara berpikirnya dalam mempertahankan identitas lokal pada setiap produk.

Produk kriya InggiTina kini tersedia di berbagai titik, seperti galeri UKM dekat bandara serta beberapa pusat oleh-oleh. Selain di pasar lokal, produk Tina juga sering dibawa ke luar negeri oleh diaspora yang berkunjung atau pulang kampung. Permintaan itu membuatnya semakin yakin bahwa kriya Kalimantan memiliki daya tarik kuat bila dikemas dengan baik.

Perjalanan panjang penuh jatuh bangun itu menjadi pijakan utama Tina ketika kemudian merintis produk pangan Jahe Habang Nusantara saat pandemi. Baginya, usaha bukan hanya soal keuntungan, tetapi kesinambungan tradisi keluarga.

Dari toko kecil yang terbakar habis, hingga akhirnya kembali membangun dua lini usaha melalui InggiTina dan Jahe Habang Nusantara, perjalanan Tina menunjukkan bahwa UMKM bisa terus bangkit selama kemauan dan identitas tetap dijaga. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#dunia usaha #Kartina Andajani #jahe merah #Jahe Habang #suvenir #InggiTina #pasar inpres kebun sayur