Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Industri Mal Dituntut Bertransformasi dan Adaptif, Pola Konsumsi Masyarakat Berubah

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 21 Desember 2025 | 20:12 WIB
KENISCAYAN: Pusat perbelanjaan tidak boleh hanya bergantung pada fungsi tradisional sebagai tempat transaksi jual beli. Harus bertansformasi menjadi destinasi gaya hidup dan ruang interaksi sosial.
KENISCAYAN: Pusat perbelanjaan tidak boleh hanya bergantung pada fungsi tradisional sebagai tempat transaksi jual beli. Harus bertansformasi menjadi destinasi gaya hidup dan ruang interaksi sosial.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri pusat perbelanjaan di Kaltim diprediksi bakal menghadapi tantangan yang semakin kompleks pada 2026.

Tekanan daya beli masyarakat, perubahan perilaku konsumen, hingga kenaikan biaya operasional menjadi faktor struktural yang menentukan keberlangsungan bisnis mal di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.

“Kondisi tersebut menuntut pengelola pusat perbelanjaan untuk lebih adaptif dan efisien, sekaligus mampu membaca kebutuhan masyarakat yang semakin selektif,” tutur Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kaltim Aries Adriyanto, akhir pekan lalu.

Menurut Aries, perubahan lanskap konsumsi membuat pusat perbelanjaan tidak lagi bisa bergantung pada fungsi tradisional sebagai tempat transaksi jual beli. Transformasi menjadi destinasi gaya hidup dan ruang interaksi sosial menjadi keniscayaan agar mal tetap hidup dan memiliki daya tarik di era digital.

“Pusat perbelanjaan harus menyesuaikan, bertransformasi dari tempat belanja menjadi destinasi gaya hidup dan ruang interaksi sosial. Pengalaman, komunitas, dan engagement emosional menjadi kunci agar mal tetap relevan dan memiliki nilai tambah di era digital,” katanya.

Di sisi lain, Aries menilai keberpihakan terhadap tenant lokal, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif justru dapat menjadi solusi berkelanjutan sekaligus peluang pertumbuhan baru bagi pusat perbelanjaan. Strategi ini dinilai mampu menciptakan diferensiasi dan memperkuat ekosistem bisnis daerah.

“Keberpihakan pada tenant lokal, UMKM dan ekonomi kreatif merupakan strategi berkelanjutan yang menciptakan diferensiasi, memperkuat ekosistem bisnis, memperkuat loyalitas pengunjung, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tren konsumen saat ini semakin menghargai keunikan dan autentisitas produk, termasuk cerita di balik sebuah merek. Hal tersebut menjadi keunggulan produk lokal yang tidak selalu dimiliki oleh brand besar.

“Konsumen saat ini semakin menghargai keunikan, autentisitas dan cerita di balik sebuah brand  yang dimiliki oleh produk lokal,” lanjut Aries.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi serta meningkatnya biaya operasional, Aries menekankan pentingnya strategi yang realistis untuk menjaga profitabilitas tanpa mengorbankan kualitas layanan. Efisiensi, menurutnya, harus dibarengi dengan inovasi dan diversifikasi sumber pendapatan.

“Menjaga profitabilitas harus dilakukan melalui efisiensi operasional, diversifikasi pendapatan dan inovasi pengalaman pengunjung, tanpa mengorbankan kualitas layanan dan daya tarik pusat perbelanjaan,” ujarnya.

Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah memperluas sumber pendapatan non-sewa, seperti event sponsorship, experiential marketing, kolaborasi dengan brand, hingga pemanfaatan ruang secara kreatif.

“Prinsipnya, profitabilitas harus dibangun melalui nilai dan relevansi, bukan semata pemangkasan biaya yang berisiko menurunkan kualitas layanan dan citra jangka panjang,” tutup Aries. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#daya beli #konsumen #tantangan #perilaku #2026 #pusat perbelanjaan #industri