Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Euforia IPO Mereda Cepat, Saham Superbank Terkoreksi Tajam di Pagi Hari

Dwi Puspitarini • Senin, 22 Desember 2025 | 09:40 WIB
Ilustrasi. Sempat terbang tinggi saat IPO, saham Superbank (SUPA) mendadak loyo pagi ini.
Ilustrasi. Sempat terbang tinggi saat IPO, saham Superbank (SUPA) mendadak loyo pagi ini.

KALTIMPOST.ID, Perjalanan awal saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendadak berubah arah.

Setelah sempat mencuri perhatian publik lewat lonjakan tajam pasca penawaran umum perdana (IPO), saham bank digital milik Grup Emtek ini justru menyentuh batas bawah (auto rejection bawah/ARB) pada perdagangan pagi ini.

Hingga pukul 09.26 WIB, saham SUPA tercatat melemah 14,63% ke level Rp1.050 per saham.

Aktivitas perdagangannya terbilang ramai, dengan volume mencapai 276 juta saham, ditransaksikan lebih dari 101 ribu kali, dan nilai transaksi menembus Rp316,8 miliar.

Kondisi ini langsung menyita perhatian pelaku pasar, mengingat Superbank baru empat hari melantai di BEI, tepatnya sejak 17 Desember 2025.

Pada hari pertama perdagangan, saham SUPA justru tampil agresif. Harga langsung melonjak hingga 24,4% dan menyentuh auto rejection atas (ARA).

Antrean beli kala itu bahkan menembus 12 juta lot, mencerminkan besarnya antusiasme investor terhadap bank digital anyar ini.

Superbank sendiri melepas saham IPO di harga Rp635 per saham, dengan total 4,4 miliar saham baru atau sekitar 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Dari aksi ini, perseroan sukses menghimpun dana segar sekitar Rp2,79 triliun.

Namun, setelah euforia awal mereda, pergerakan harga mulai menunjukkan dinamika yang lebih realistis.

Koreksi tajam pagi ini menandai fase baru dalam perjalanan SUPA sebagai perusahaan terbuka.

 Baca Juga: Astra Motor Kaltim 1 Dorong Peran Posyandu Jaga Tumbuh Kembang Anak di Era Digital

Fundamental Masih Bertumbuh

Di balik tekanan harga saham, kinerja bisnis Superbank justru mencatat pertumbuhan signifikan.

Hingga November 2025, bank digital ini membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp122,4 miliar.

Pendapatan bunga bersih melonjak 165% secara tahunan menjadi Rp1,4 triliun, seiring pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp11 triliun, naik 149% yoy. Penyaluran kredit juga meningkat 58% yoy menjadi Rp9,3 triliun.

Dari sisi skala usaha, total aset Superbank tumbuh 69% yoy menjadi Rp18 triliun, didukung pertumbuhan jumlah nasabah yang kini telah melampaui 5 juta pengguna sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024.

Manajemen menegaskan, dana hasil IPO tidak akan disimpan diam. Sekitar 70% dialokasikan untuk modal kerja, terutama memperluas penyaluran kredit ke segmen ritel dan UMKM yang belum terlayani optimal oleh perbankan konvensional.

Sementara 30% sisanya digunakan untuk memperkuat fondasi digital, mulai dari pengembangan produk, sistem pembayaran digital, infrastruktur teknologi informasi, hingga investasi jangka panjang di AI, analitik data, dan keamanan siber.

Presiden Direktur Superbank, Tigor Siahaan, menyebut pencatatan saham ini sebagai awal fase baru.

“Dengan dukungan pemegang saham dan ekosistem digital yang kuat, kami siap mempercepat inovasi dan memperluas akses layanan ke jutaan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Pasca IPO, Superbank juga resmi masuk kategori KBMI 2, setelah modal inti perseroan melampaui Rp6 triliun.

Status ini memberi ruang lebih luas bagi bank untuk memperbesar skala bisnis dan bersaing di industri perbankan digital yang semakin padat. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#PT super Bank Indonesia Tbk #emtek group #saham SUPA #Superbank #IPO Superbank SUPA #Bank Digital