KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Sektor kuliner diprediksi bakal menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja pusat perbelanjaan di Kaltim pada tahun depan. Dengan daya beli masyarakat yang masih terjaga, pelaku retail dan tenant makanan-minuman diyakini tetap agresif melakukan ekspansi.
Pengelola mal pun menyiapkan strategi untuk memperbanyak variasi food and beverages (F&B), sembari merawat pengalaman pengunjung agar kunjungan tetap stabil di tengah persaingan yang kian padat.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kaltim, Aries Andriyanto, mengatakan tenant makanan-minuman akan tetap mendominasi komposisi penyewa mal pada 2026.
Menurutnya, perluasan variasi kuliner menjadi strategi menjaga trafik pengunjung, seiring kecenderungan masyarakat yang menjadikan pengalaman bersantap sebagai alasan utama datang ke pusat perbelanjaan.
“Porsi tenant lebih dominan F&B karena ragam kuliner di Kaltim harus diperbanyak. Semakin banyak pilihan, semakin besar alasan pengunjung datang,” jelasnya kepada Kaltim Post, Jumat (26/12).
Selain mendorong ekspansi sektor makanan-minuman, pengelola juga didorong memperbanyak kegiatan tematik agar arus kunjungan tidak monoton. Event bulanan atau tematik dinilai krusial untuk menambah daya tarik, dengan catatan konsepnya segar dan belum pernah dihadirkan sebelumnya di Kaltim.
“Event harus ada setiap bulan dan kreatif. Pengunjung kini selektif. Mereka mencari kegiatan yang menarik, opsi tempat makan yang beragam dan kenyamanan selama berada di pusat belanja,” ucap Aries.
Optimisme ekspansi juga datang dari sektor retail. Meski tren konsumen makin praktis dan digital, Aries menyebut pembelian langsung tetap memiliki pasar tersendiri. Kekuatan daya beli masyarakat Kaltim membuat sejumlah tenant non-F&B masih melihat peluang untuk membuka cabang baru di pusat perbelanjaan.
“Purchase power Kaltim cukup tinggi. Itu membuat banyak pelaku retail optimistis berinvestasi di sini,” tambahnya. Tahun depan, Kaltim juga bersiap menyambut penambahan pusat perbelanjaan baru.
APPBI mencatat Balikpapan akan menjadi lokasi ekspansi berikutnya melalui pembangunan Podomoro Bay Mall, di kawasan kawasan Borneo Bay City di Balikpapan salah satu proyek Agung Podomoro Land.
Kehadiran mal baru dinilai akan memperkuat lanskap ritel sekaligus memacu pengelola lain meningkatkan layanan. Aries menekankan, arena kompetisi pusat belanja tidak semata bergantung pada jumlah tenant. Pengalaman berkunjung, mulai tata ruang, kenyamanan, hingga pelayanan akan menjadi pembeda dalam memikat konsumen.
“Kualitas layanan harus ditingkatkan. Pengunjung ingin merasa nyaman, bukan hanya sekadar berbelanja,” tegasnya.
Memperkuat keragaman kuliner dan sosial event, pusat perbelanjaan di Kaltim diperkirakan tetap menjadi magnet aktivitas rekreasi masyarakat. Tantangannya bukan pada minat yang menurun, melainkan bagaimana pengelola menjaga momentum kunjungan lewat pengalaman yang terus diperbarui. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo