KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menyambut 2026, PT Aqueena Indonesia Aljaya menyiapkan strategi ekspansi dengan fokus memperluas pasar domestik. Meski peluang ekspor mulai terbuka, pemilik usaha memilih memantapkan penetrasi di dalam negeri terlebih dahulu.
Owner PT Aqueena Indonesia Aljaya, Wiwit Andriyanti, menegaskan strategi utama ke depan adalah memperluas jangkauan distribusi ke lebih banyak provinsi di Indonesia.
“Harapan saya bisa tembus ke lebih banyak daerah. Kalau bisa 10 provinsi saja sudah sangat bersyukur. Saat ini sudah empat provinsi (Jakarta Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat),” kata Wiwit.
Dia mengungkapkan, sejumlah daerah sudah mulai menunjukkan ketertarikan, di antaranya Medan, Batam, dan Banjarmasin. Kontak kerja sama tersebut datang secara mandiri melalui media sosial. “Mereka menghubungi lewat Instagram dan ngajak ketemu langsung di daerahnya,” ujarnya.
Meski demikian, Wiwit tidak ingin terburu-buru. Setiap rencana ekspansi akan didahului dengan pengamatan langsung terhadap karakter pasar dan selera konsumen setempat. “Saya biasanya datang langsung, lihat kulinernya, tanya orang-orang suka apa, baru saya tentukan produk mana yang cocok,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas, produksi sambal bawang dayak masih dilakukan secara terbatas dengan proses masak yang panjang dan tanpa bahan pengawet. Setiap varian membutuhkan waktu hingga lima hari untuk menghasilkan sambal yang tahan lama. “Cara masaknya lama, seperti masak rendang. Itu yang bikin sambal kami awet tanpa pengawet,” katanya.
Wiwit juga menegaskan fokus usahanya tetap di pasar Indonesia, meski beberapa kali mendapat tawaran ekspor. “Saya ingin mengenalkan produk ini ke Indonesia dulu. Indonesia luas, ada 38 provinsi. Kalau di dalam negeri sudah kuat, baru bicara ekspor,” ujarnya.
Dia mengaku tetap optimistis menghadapi 2026, meski banyak pihak memprediksi perlambatan ekonomi. “Saya enggak pernah menyerah. Kondisi ekonomi boleh turun, tapi usaha harus tetap bergerak,” jelasnya.
Dia juga berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga serta pasokan harga bahan baku. Utamanya adalah cabai sebagai bahan baku utama. Itu menjadi kendala sehingga pada momen tertentu, ada kondisi dimana Wiwit sulit untuk produksi.
Selain jangkauan pasar lebih luas, target usahanya menyambut pergantian tahun yakni memiliki toko oleh-oleh sendiri. "Jadi bisa menampung produk UMKM teman-teman lainnya," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo