KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri perhotelan di sejumlah daerah menghadapi kondisi yang tidak lazim menjelang malam pergantian tahun. Jika biasanya tingkat hunian hotel melonjak signifikan beberapa hari sebelum tahun baru, kali ini situasinya berbeda.
Sejumlah kota besar dan daerah penyangga masih mencatatkan tingkat okupansi yang relatif rendah, termasuk Balikpapan. Bahkan pada 28 Desember kemarin, Direktur Operasional Platinum Hotel Indonesia Soegianto mengungkapkan bahwa tren hunian hotel jelang akhir tahun kali ini cukup mengejutkan.
Menurutnya, pola liburan masyarakat berubah dan berdampak langsung pada distribusi tingkat hunian di berbagai daerah.
“Biasanya kalau sudah mendekati tahun baru, tiga sampai empat hari sebelumnya tingkat hunian itu sudah kelihatan, minimal di angka 70 sampai 80 persen. Tapi sekarang masih banyak yang sepi, ini yang agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Soegianto, Minggu (28/12).
Ia menjelaskan, kondisi hunian hotel saat ini tidak merata antarwilayah. Beberapa kota justru mengalami lonjakan signifikan, sementara daerah lain masih berjuang mengisi kamar meski berbagai program akhir tahun telah disiapkan.
Untuk kota-kota besar tertentu, tingkat hunian bahkan sudah sangat tinggi. Soegianto menyebut Surabaya dan Jogjakarta sebagai contoh daerah dengan performa positif menjelang malam Tahun Baru. “Kalau Surabaya itu sudah ramai sekali. Jogja bahkan hampir seluruh hotelnya sudah penuh,” tuturnya.
Namun kondisi berbeda terjadi di Bali. Meski tetap menjadi destinasi utama wisata nasional, tingkat hunian di Pulau Dewata dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.
“Di Bali kalau dibandingkan tahun lalu turun sekitar 20 persen. Salah satu penyebabnya karena isu-isu negatif yang beredar, seperti banjir atau kondisi yang dianggap kurang bersih. Ini biasa terjadi dalam persaingan pariwisata,” jelas Soegianto.
Sementara itu, Jakarta juga belum menunjukkan performa hunian yang optimal. Menurut Soegianto, karakter Jakarta sebagai kota asal wisatawan membuat tingkat hunian hotel cenderung melemah saat musim liburan panjang. “Jakarta memang biasanya seperti itu. Warga Jakarta justru banyak yang keluar kota saat libur panjang, jadi okupansi hotel di Jakarta tidak terlalu bagus,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Balikpapan. Kota ini dinilai belum mampu menarik cukup banyak wisatawan untuk menutup kekosongan kamar hotel selama periode libur panjang. Salah satu faktor utamanya adalah kecenderungan warga lokal untuk berlibur ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.
“Balikpapan juga masih sepi. Orang Balikpapan itu kalau libur sekolah atau libur panjang, banyak yang ke luar daerah atau ke luar negeri,” sebut Soegianto. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo