KALTIMPOST.ID-Namun tantangan industri jasa pernikahan tahun 2026 tidak hanya datang dari perubahan selera konsumen.
Tekanan ekonomi dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah serta BUMN turut memengaruhi keberlangsungan usaha.
Berkurangnya kegiatan resmi dan acara berskala besar di hotel maupun gedung pertemuan membuat pasar event nonpernikahan melemah. Padahal segmen itu selama ini menjadi penopang tambahan bagi vendor dekorasi.
Ketua Asosiasi Pengusaha Dekorasi Indonesia (Aspedi) DPW Kaltim Agustriono berujar, pihaknya merasakan penurunan yang cukup signifikan. Vendor yang biasanya menangani beberapa event pemerintah dalam setahun, sekarang jumlahnya jauh berkurang.
Situasi tersebut memaksa pelaku usaha untuk mencari strategi baru agar tetap bertahan. Aspedi mendorong pola kolaborasi antarvendor sebagai solusi di tengah pasar yang menyempit.
Kolaborasi dinilai tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga menekan biaya operasional dan menjaga kualitas layanan. Untuk event besar, sekarang kolaborasi menjadi keharusan.
Selain itu, Agus melihat industri dekorasi pernikahan sedang memasuki fase pematangan. Pasar tetap ada, namun dengan karakter yang berbeda.
Skala besar bukan lagi tolok ukur utama, melainkan kemampuan beradaptasi, efisiensi, dan inovasi layanan.
Ia berharap perubahan selera generasi muda dan tekanan ekonomi bisa menjadi momentum bagi industri jasa pernikahan untuk tumbuh lebih sehat dan profesional.
Dengan konsep yang relevan, pemanfaatan teknologi, kolaborasi yang kuat, serta orientasi pada kualitas dan pengalaman, tahun 2026 dinilai sebagai awal pembentukan fondasi baru bagi bisnis pernikahan di Indonesia.
“(Tahun) 2026, industri dekorasi tidak lagi bicara soal siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling adaptif. Mereka yang bisa membaca tren, menjaga etika, dan membangun kolaborasi akan bertahan,” tegasnya. (rd)
Editor : Romdani.