KALTIMPOST.ID-Industri hulu migas di Kalimantan dan Sulawesi tidak hanya berbicara soal angka produksi dan investasi.
Di balik aktivitas pengeboran dan proyek pengembangan lapangan, terdapat komitmen kuat untuk mendorong pembangunan berkelanjutan melalui program pemberdayaan masyarakat (PPM) dan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Sepanjang 2025, Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) mencatat realisasi kegiatan PPM mencapai 268 kegiatan dari rencana 371 kegiatan.
Capaian tersebut setara 72 persen hingga akhir November 2025, dengan outlook realisasi akhir tahun diperkirakan menembus 95 persen.
Mengenai itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalsul Azhari Idris menyampaikan program PPM menjadi instrumen penting untuk memastikan kehadiran industri migas memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
“PPM bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari komitmen kami untuk tumbuh bersama masyarakat. Program ini kami arahkan agar benar-benar menjawab kebutuhan riil di daerah,” kata Azhari.
Dari sisi sektor, realisasi PPM mencakup berbagai bidang strategis. Program pendidikan mencatat puluhan kegiatan mulai peningkatan sarana belajar hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Sektor kesehatan juga mendapat perhatian melalui program layanan kesehatan masyarakat.
“Di bidang ekonomi, PPM diarahkan untuk mendorong kemandirian usaha lokal. Sementara sektor infrastruktur dan lingkungan difokuskan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar wilayah operasi migas," sebutnya.
Salah satu sorotan utama adalah program penghijauan. Hingga 2025, realisasi program penghijauan di wilayah Kalsul mencapai 129.281 bibit pohon, atau sekitar 158 persen dari target tahunan.
Capaian itu menjadi bukti bahwa aksi lingkungan bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang industri migas.
“Setiap tahun, target penghijauan di wilayah Kalsul selalu tercapai, bahkan melampaui target. Itu adalah aksi nyata kami dalam mendukung target net zero emission 2060,” sebut Azhari.
Program penghijauan tersebut dilaksanakan melalui sinergi antara SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), pemerintah daerah, dan masyarakat.
Selain menanam pohon, program itu juga dibarengi dengan edukasi lingkungan dan pelibatan masyarakat lokal agar keberlanjutan program dapat terjaga.
Dari sisi operasional, SKK Migas Kalsul juga terus memperkuat aspek tata kelola dan pengawasan.
Sepanjang 2025, tercatat puluhan kegiatan sosialisasi, kunjungan kehormatan, koordinasi perizinan, serta pengawasan fisik PPM dan operasional migas.
Upaya itu dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai ketentuan, aman, dan minim dampak lingkungan.
“Keberhasilan industri migas tidak hanya diukur dari produksi, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga lingkungan dan membangun hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan,” ujarnya.
Capaian tersebut menjadi modal penting memasuki 2026, saat aktivitas hulu migas di wilayah Kalsul diproyeksikan meningkat seiring rencana pengeboran dan proyek baru.
SKK Migas menegaskan bahwa peningkatan aktivitas akan tetap diimbangi dengan penguatan program sosial dan lingkungan.
“Dengan kombinasi antara kinerja operasional, kontribusi terhadap target energi nasional, serta komitmen pada keberlanjutan, SKK Migas Kalsul menegaskan arah industri migas yang tidak hanya berorientasi pada produksi. Tetapi juga pada nilai tambah jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.